Selasa, 09 September 2014

KEPEMIMPINAN PENDDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.
Masalah kepemimpinan adalah masalah yang utama dalam hidup dan kehidupan umat manusia, oleh karena itulah maka umat manusia selalu membutuhkan kepemimpinan, sebab untuk mencapai suksesnya sebuah tujuan dan terjadinya efisiensi kerja harus ada pemimpin. Kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin.  Untuk itu, maka gaya seseorang di dalam memimpin akan amat berpengaruh terhadap organisasi atau lembaga yang dipimpinnya, baik pengaruh itu bersifat positif maupun negatif terhadap organisasi tersebut. Covey menyatakan bahwa 90 persen dari semua kegagalan kepemimpinan adalah kegagalan pada karakter. Kepemimpinan adalah pangkal utama dan pertama penyebab daripada suatu kegiatan, proses atau kesediaan untuk merubah pandangan atau sikap daripada kelompok orang-orang, baik dalam hubungan organisasi formal maupun informal. Kepemimpinan merupakan  suatu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan suatu lembaga atau organisasi, sehingga kemampuan seseorang pemimpin secara efektif merupakan kunci keberhasilan suatu lembaga atau organisasi. Maka, esensi kepemimpinan adalah kepengikutan, kemauan orang lain untuk mengikuti keinginan pemimpin. Pemimpin merupakan faktor penentu dalam kesuksesan atau gagalnya suatu organisasi dan usaha. Baik di dunia bisnis, maupun di dunia pendidikan, kesehatan, perusahaan, religi, sosial, politik, pemerintahan  Negara, dan lain-lain, kualitas pemimpin menentukan keberhasilan lembaga atau organisasinya. Sebab, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa suatu lembaga atau organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen sekaligus bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada bawahan dan masyarakat luas.
Secara eksplisit konsep kepemimpinan sudah disinggung oleh Al-Qur’an bahwa kepemimpinan merupakan missen sacre (tugas suci) terhadap pembangunan manusia, tugas ini merupakan bentuk manifestasi manusia sebagai khalifah fil al ardh (wakil Allah dimuka bumi) untuk jadi pemimpin (khalifah).
Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini;
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."[1]

Secara langsung kepemimpinan yang ideal sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin ditandai oleh adanya visi misi yang agung, tujuan dan ajaran untuk membangun kekhalifahan.[2] Nabi Muhammad SAW diutus kemuka bumi ini membawa tugas utama dalam rangka menyelamatkan manusia dari belenggu kesesatan yaitu mengajak manusia untuk bertauhid mengesakan Allah SWT, menuju kepada ketaqwaan dan iman, kendati terus menerus mendapatkan cobaan, pelecehan, hinaan dan sikasaan dari mayoritas suku quraisy, namun Nabi Muhammad SAW tetap tegak berdakwah di jalan yang benar tanpa pamrih dan putus asa.
Setelah Rasulullah SAW wafat, maka kepemimpinan diteruskan oleh para shahabatnya seperti: Abu Bakar As-Siddiq (11-13 H/ 632-634 M), Umar bin Khattab (13-23 H/ 634-664 M), Usman bin Affan (23-35 H/ 664-656 M, dan Ali bin Abi Thalib (35-40 H/ 656-661 M),[3] yang di kenal dengan sebutan al-Khulafa’ al-Rasyidun, (para pengganti yang mendapatkan bimbingan ke jalan yang lurus). Secara terintegrasi sebagai pemimpin Agama sekaligus pemimpin Negara baik secara formal maupun substansial.[4] Begitu seterusnya sampai sekarang kepemimpinan masih ada dan tidak bisa terlepas dari lingkup kepemimpinan dan pemimpin.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian kepemimpinan?
2.    Bagaiman teori kepemimpinan?
3.    Bagaimana Kepemimpinan prspektif islam?
4.    Macam-macam gaya kepemimpinan?
5.    Tipe-tipe kepemimpinan
6.    Bagaimana seharusnya menjadi pemimpin?
C.  Tujuan Pembahasan
1.    Mengethui berbagai pengertian kepemimpinan,
2.    Memahami teori kepemimpinan
3.    Memahami kepemimpinan prspektif islam
4.    Memahami macam-macam gaya kepemimpinan,
5.    Mengetahui tipe-tipe kepemimpinan
6.    Memahami bagaimana seharusnya memimpin.









DAFTAR ISI
BAB I  PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang ..............................................................................          1  
B.  Rumusan Masalah..........................................................................          2
C.  Tujuan Pembahasan.......................................................................         2
BAB II  PEMBAHASAN
A.  Pengertian Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia....          4
1.    Kepemimpinan.....................................................................          4
2.    Kepemimpinan Menurut Para Pakar ....................................          5
3.    Teori Kepemimpinan............................................................
4.    Kepemimpinan Prspektif Islam............................................
B.  Gaya Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia.............          10
1.    Menurut W.J Redien ...........................................................          10
2.    Menurut A. M Mangunhardjana..........................................          12
3.    Menurut G. R. Terry,............................................................          14
4.    Menurut Kurt Lewin,...........................................................          15
5.    Menurut Tohardi..................................................................          16
C.  Tipe Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia..............
D.  Bagaimana seharusnya memimpin.................................................          16
1.    Pemimpin karismatik............................................................          17
2.    Pemimpin yang efektif.........................................................          18
3.    Pemimpin yang tresformatif.................................................         19
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan ...................................................................................          22
Daftar rujukan................................................................................          23
                                                                                                                                   



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia.
1.    Kepemimpinan
Kepemimpinan (leadership) dan pemimpin (leader) merupakan objek dan subjek yang banyak dipelajari, dianalisis dan direfleksikan orang sejak dahulu sampai sekarang. Pada tahun 1993 sudah terdapat 221 definisi kepemimpinan yang ditulis dalam 587 publikasi, pada tahun 2005, Amazon.com telah mendaftar 18.299 buku kepemimpinan. Google schoolar mendaftar 16.800 buku kepemimpinan dan 386.000 kutipan kepemimpinan dan 3000 lebih penelitian definisi kepemimpinan sudah dilakukan manusia.[5] Meskipun sudah banyak definisi dari kepemimpinan, namun tidak satupun yang memuaskan, kepemimpinan didefinisikan orang sesuai sudut pandang masing-masing sesuai dengan latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan kepentingan orang yang mendefinisikannya. Istilah kepemimpinan menyangkut tentang cara atau peroses mengarahkan orang lain agar mau berbuat seperti apa yang pemimpin harapkan.
Secara etimologi, kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin. Dalam bahasa Inggris, leadership yang berarti kepemimpinan, dari kata dasar leader berarti pemimpin dan akar katanya to lead yang terkandung beberapa arti yang saling berhubungan erat seperti: bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat paling dulu, memelopori, mengarahkan pikiran-pendapat-orang lain, membimbing, menuntun, dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.[6] Kepemimpinan adalah usaha memimpin diawal untuk menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang wajib dalam kehidupan agar kehidupan menjadi teratur dan keadilan bisa ditegakkan, sehingga tidak berlaku hukum rimba. Kepemimpinan juga dapat dikatakan penting apabila memanfaatkan dan mengelola potensi setiap anggota dengan cara yang tepat . Maka dari itu seorang pemimpin dalam mengendalikan kepemimpinannya harus mendorong perilaku yang positif dan meminimalisir semua yang negatif, mencari pemecahan masalah, mempelajari perubahan di sekitarnya, serta mencanangkan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan.
Kesimpulannya  bahwa kepemimpinan adalah terjemahan dari kata leader/head/manager, yang juga disebut manajer/kepala/ketua/direktur/presiden dan lain sebaginya pemakain istilah ini tergantung kepada kebiasaanatau kesenangan setiap organisasi, jadi tidak perlu diperdebatkan.[7]
Kepemimpinan dalam bidang manajeman sumber daya manusia bukan lah merupakan hal yang timbul dengan mendadak.[8] sejarah telah membuktikan bahwa sudah sejak lama manusia hidup berorganisasi meskipun belum seintensif sekarang, namun sudah berarti sudah sejak lama pula manajemen sumber daya manusia diperaktekkan.
2.    Kepemimpinan Menurut Para Pakar.
Menurut Bush (2008) Kepemimpinan adalah tindakan-tindakan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan akhir yang diharapkan.[9] Menurut Dirawat kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengarahan itu.[10] Menurut Andrew J Dubrin kepemimpinan adalah kekuatan dinamis penting yang memotivasi dan mengoordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan.[11] Menurut Robbins, seperti yang dikutip oleh Sudarwan Danim dan Suparno, kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Owens mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu interaksi antara satu pihak sebagai yang memimpin dengan pihak yang dipimpin. Sedangkan James Lipham, seperti yang diikuti oleh M. Ngalim Purwanto, mendefinisikan kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi atau untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.[12]

Menurut Hendiyat Soetopo dan Waty Soemanto, kepemimpinan sebagai suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai dari kelompok itu, yaitu tujuan bersama. Sedangkan pengertian kepemimpinan secara umum adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat memengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, dan kalau perlu memaksa orang lain agar dapat membantu pencapaian suatu maksud atau tujuan tertentu.[13]

Sedangkan menurut Inu Kencana Syafiie, yang diambil dari sudut pandang atau secara etimologi, kepemimpinan dapat diartikan sebagai berikut.
a.    Berasal dari kata pimpin (dalam bahasa Inggris lead) berarti bimbing atau tuntun. Dengan demikian, di dalamnya ada dua pihak, yaitu yang dipimpin (umat) dan yang memimpin (imam).
b.    Setelah ditambah awalan pe- menjadi pemimpin (dalam bahasa Inggris leader) berarti orang yang memengaruhi orang lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak untuk mencapai tujuan tertentu.
c.    Apabila ditambah akhiran –an menjadi pimpinan artinya orang yang mengepalai. Antara pemimpin dengan pimpinan dapat dibedakan, yaitu pimpinan (kepala) cenderung lebih sentralistis, sedangkan pemimpin lebih demokratis.
d.   Setelah dilengkapi dengan awalan ke- menjadi kepemimpinan (dalam bahasa Inggris leadership) berarti kemampuan dan kepribadian seseorang dalam memengaruhi serta membujuk pihak lain agar melakukan tindakan pencapaian tujuan bersama sehingga dengan demikian yang bersangkutan menjadi awal struktur dan pusat proses kelompok.[14]

Sedangkan menurut Nawawi kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan memeberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan.[15]
Menurut Edi Sutrisno, kepemimpinan adalah suatu peroses kegiatan seseorang untuk menggerakkan orang lain dengan memimpin, membimbing, mempengaruhi, orang lain, untuk melakukan sesuatu agar dicapai hasil yang diharapkan.[16] Dari definisi kepemimpinan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi dan mengelaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organissasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai.Pemimpin adalah orang yang dianut oleh orang-orang lain dalammencapai tujuan bersama.Dengan demikian, dia mempunyai wibawa, kekuasaan, ataupun pengaruh (terjemahan dariauthority, power, dan influence). Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan terdiri atas: 1) mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu; 2) memperoleh consensus atau suatu pekerjaan; 3) untuk mencapai tujuan manajer; 4) untuk memperoleh manfaat bersama.
Keith Davis dalam Sutarto (1989) Leadership is ability to persuade the others to seek defined objective enthusiastically. (kepemimpinan adalah kemampuan mengajak orang-orang lain untuk mencari tujuan tertentu dengan penuh semangat).
Kae. H. Chung & Leon C. Megginson dalam Sutarto (1989) Leadership is the process of influencing other people for the purpose of achieving shared goals (kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang agar mau bekerjasama untuk mencapai mencapai tujuan bersama).[17]
Freeman & E. K. Taylor dalam Sutarto (1989) Leadership is the ability to create group action toward an organizational objective with maximum effectiveness and cooperation from each individual. (kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektivitas maksimum dan kerjasama dari tiap-tiap individu).
Dubin dalam Sutarto (1989) Leadership is the exercise of authority and the making of decisions. (kepemimpinan adalah menggunakan wewenang dan membuat keputusan-keputusan).
Frankilm G. Moore dalam Sutarto (1989) Leadership is the ability to make act the way the leader want. (kepemimpinan adalah kemampuan membuat orang-orang bertindak sesuai dengan keinginan pemimpin).
Reuter dalam Sutarto (1989) Leadership is an ability to persuade or direct men without use of the prestige or power of formal office or external circumstance. (kepeminpinan adalah suatu kemampuan untuk mengajak atau mengarahkan orang-orang tanpa memakai kekuatan jabatan formal atau keadaan luar)[18]
James M. Black dalam Sutarto (1989) Leadership is capable persuading others to work together under directions as a team to accomplish certain designated objectives. (kepemimpinan adalah kemampuan yang sanggup meyakinkan orang lain supaya bekerjasama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai tujuan tertentu).
George R. Terry dalam Handoko, T. Hani, (2009) Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences others to work tigether willingly on relted tasks to attain tthat which the leaders desires. (kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin).[19]

Harold Koontz & Cyrill O’Donnell dalam Sutarto (1989) Leadership is the art of inducing subordinates to accomplish their assignment with zeal and confidence. (kepemimpinan adalah seni membujuk bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan semangat keyakinan).
Richard N.Osborn, James G. Hunt, dan Lawrence R. Jauch dalam Sutarto (1989) Leadership all ways in which one person exert influence over others. (kepemimpinan – semua cara yang disitu seseorang mempunyai pengaruh).
Robert Tannenbaum, Irving R. Weschler, dan Fred Massarik dalam Sutarto (1989) Leadership as interpersonal influence, exercised in situation and directed through the communication process, toward the attainment for a spesific soal or goals. (kepemimpinan sebagai aktivitas saling pengaruh antar privadi, dilatih dalam situasi dan diarahkan, melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan atau tujuan-tujuan khusus).

John D. Pfiffner & Robert Presthus dalam Sutarto (1989) Leadership is the art of coordinating and motivating individuals and groups to achieve desired ends. (kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan).
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu peroses memberi arahan, motivasi, menggerakkan, mempengaruhi dan menciptakan rasa percaya diri untuk mencapai tujuan operasional baik yang bersifat duniawi maupun ukhrowi sesuai dengan nilai syariat islam.
Cara pemimpin mempengaruhi bawahan dapat bermacam-macam antara lain memberikan gambaran masa depan yang lebih baik, memberikan perintahm memberikan imbalan, melimpahkan wewenang, mempercayai bawahan, memberiakn penghargaan, memberi kedudukan, memberikan tugas, memberikan tanggung jawab, memberikan kesempatan mewakili, mengajak, meminta saran atau pendapat, pertimbangan, memberi kesempatan berperan, memnerikan motivasi, membela, mendidik, membimbing, mempelopori, memberikan petunjuk, menegakkan disiplin, memberikan teladan, memberikan arah, memberikan keyakinan, mendorong kemajuan, menciptakan perubahan, memberikan ancaman, memberikkan hukuman, dan lain-lain.
Setelah kita mengetahui belbagi arti dari kepemimpinan menurut para ahli tak lupa disamping itu ada peran kepemimpinan yang  harus ada pada pemimpin yaitu pertama peran sebagai pelayan, pemimpin adalah pelayan bagi para pengikutnya atau bawahannya, maka ia wajib memberikan kesejahtraan bagi pengikutnya, kedua sebagai pemandu, pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan kepada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik bagi pengikutnya agar selamat sampai tujuan.[20]
Titik tekan yang harus diperhatikan dari definisi kepemimpinan diatas dapat disimpulkan menjadi tiga impliasi penting diantaranya pertama, kepemimpinan menyangkut orang lain, bawahan atau pengikut. Kedua kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara pemimpin dan anggota kelompoknya. Ketiga kepemimpinan menyangkut seni mempengaruhi orang lain, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya memerintahkan bawahan tetapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya, sebagai contoh seorang kepala sekolah dapat mengarahkan para guru melaksanakan tugas tertentu, tetapi dia juaga dapat mempengaruhi dan menagarahkan bagaimana menyelesaikan tugas dengan tepat dan benar.
3.    Teori Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia.
a.    Teori Genetis
Teori ini menyatakan bahwa “leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak akan muncul sebagai pemimpin.
Seorang ahli di bidang Manajemen, yaitu Peter F. Drucker dalam pendiriannya mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, dan bukan hasil pembentukan. Bahkan dalam tulisannya ia mengatakan bahwa;
 Leadership is of utmost importance. Indeed there is no substitute fo it. But leadership cannot be created or promoted. It can not be taught or learned. But management created leaders. It can only created the conditions under wich potential leadership qualities become effective; or it can stifle leadership.[21]

Pandangan ini mengetengahkan suatu preposisi bahwa kepemimpinan ditentukan oleh sifat dan ciri pribadi pemimpin yang mempengaruhi para bawahannya. Jadi, kepemimpinan merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang tidak bisa dipelajari, tetapi hanya bisa dibentuk melalui pembentukan dari awal. Dalam kepemimpinan islam suadah barang tentu melekat sifat-sifat yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul yang mana kepemimpinan Nabi dan Rasul ditunjang dengan sifat-sifat terpuji seperti: jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan (tabligh), dan cerdas (fathanah).[22] Yang kemudian di sebut sebagai sifat profetik, sifat yang fundamental didalam kepemimpinan islam.
b.   Teori Sosial
Teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Teori ini lahir sebagai hasil dari ketidakpuasan terhadap teori genetis. Teori ini memandang bahwa keberhsilan kepemimpinan lebih banyak tergantung kepada perilaku (behavior), keterampilan (skills) dan tindakan (actions) pemimpin dan kurang tergantung pada sifat-sifat peribadi.[23] Jadi, teori ini merupakan kebalikan inti Teori Genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
c.    Teori Ekologis
Teori ekologis ini pada intinya menekan bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini  menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.
4.    Kepemimpinan Perspektif Islam
Pada dasarnya Al-Qur’an tidak pernah secara tersirat menyebutkan kata kepemimpinan (leadership), karena kepemimpinan merupakan istilah dalam manajemen organisasi. Meskipun demikian, bukan berarti Al-Qur’an tidak membicarakan sama sekali masalah kepemimpinan, Al-Qur’an mengemukakan istilah imam, a’immah, wali, awliya’ dan khalifah dan lain-lain yang merupakan kata lain dari pemimpin dan kepemimpinan, Al-Qur’an juga mengemukakan tentang prinsip-prinsip dasar kepemimpinan seperti amanah (‘amanah), keadilan (al-‘adl) dan musyawarah (syura).
Persoalan kepemimpinan dalam islam sejatinya sudah di sebutkan sejak manusia berada di muka bumi dengan istilah khalifah fil ardh, disebabkan karena islam memandang manusia sebagai pemimpin yakni wakil Allah SWT di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
øŒÎ)ur tA$s% šu Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."[24]

                Dari ayat diatas bahwa Allah SWT memakai kata khalifah ada kaitannya dengan pengertian khilafah yang berarti pemimpin. Manusia mengemban amanat kekhalifahaan karena kemampuannya dalam berfikir dan mempergunakansimbol-simbol komunikasi (al-asma’a kullaha).
Kata khalifah berasal dari akar kata kh-l-f yang dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 127 kali dalam 12 kata jadian maknanya berkisar diantara kata kerja yakni menggantikan, meninggalkan atau kata benda pengganti atau penerus.[25]
Senada dengan definisi yang diungkapkan oleh Abul ‘Ala Al- Maududi asal pakistan tokoh yang mendirikan organisasi Jema’ati Islam Pakistan, beliau mengatakan dalam bukunya Al-Khilafah Wa Al-Mulk, bahwa khalifah berasal dari kata yang sama dengan khilafah yang berarti kekuasaan atau kepemimpinan.[26] Pernyatan ini sekaligus menjadi teori islam tentang Negara dan pemerintahan yang berfungsi sebagai pengatur umat dalam menegakkan amanah dan keadilan.
Khalifah secara bahasa juga berarti pemimpin, penerus, pengganti, pelanjut Nabi Muhammad SAW.[27] Sedangkan menurut istilah khalifah adalah pengganti orang lain, baik karena absennya orang yang digantikan, karena meninggalnya orang yang digantikan, maupun alasan-alasan yang lain.
Khalifah menurut Ali Abdul Raziq berarti juga Al-Sultan Al-A’dzam yaitu kekuasaan yang paling besar atau paling tinggi.[28] Sedangkan menurut Ibn Khaldun kekhalifahan adalah memerintahkan rakyat sesuai dengan petunjuk Agama baik soal-soal keakhiratan dan keduniawian, sebab dalam pandangan pembuat undang-undang, semua soal keduniawian ini harus dihukumi dari kepentingan hidup keakheratan.[29] Oleh karena itu hakekat khalifah atau kekhalifahan merupakan pengganti Nabi Muhammad SAW sebagai penegak agama dan sebgai pengatur soal-soal duniawi dipandang dari segi agama.
Diayat lain disebutkan Allah SWT berfirman:
ߊ¼ãr#y»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ ZpxÿÎ=yz Îû ÇÚöF{$# Läl÷n$$sù tû÷üt Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@Î6y «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@Î6y «!$# öNßgs9 Ò>#xtã 7ƒÏx© $yJÎ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ  
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.[30]

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
uqèdur Ï%©!$# öNà6n=yèy_ y#Í´¯»n=yz ÇÚöF{$# yìsùuur öNä3ŸÒ÷èt s-öqsù <Ù÷èt ;M»y_uyŠ öNä.uqè=ö7uŠÏj9 Îû !$tB öä38s?#uä 3 ¨bÎ) y7­u ßìƒÎŽ|  É>$s)Ïèø9$# ¼çm¯RÎ)ur Öqàÿtós9 7LìÏm§ ÇÊÏÎÈ  
Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[31]

Diantara potensi yang diberkan Allah SWT kepada manusia adalah kemampuan memimpin untuk menjaga kelestarian alam yang diberikan Allah dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.[32]
a.    Ciri-Ciri Kepemimpinan dalam Islam.
Dalam islam kepemimpinan (khilafah) memiliki ciri pembeda dari pemimpin non islam (otoriter, liberal), ciri-ciri itu sebagaimana yang telah dijelakan oleh Veithzal Rivai & Arviyan Arifin (2009) sebagai berikut:
1)   Menjunjung tinggi syariat islam dan akhlak islam
2)   Memegang teguh amanah
3)   Rendah hati, tidak sombong dalam memimpin
4)   Setia, pemimpin dan yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah SWT
5)   Disiplin, konsisten dan konsekuen dalam segala tindakan
6)   Terikat pada tujuan.[33]

Sesungguhnya kepemimpinan tidak terlepas dari ikatan dan tujuan yang seharusnya di jalankan baik bersifat abstarak maupun riel.
b.   Sifat-Sifat Kepemimpinan dalam Islam
Salah satu kreteria pemimpin yang profetika adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Sukarna dalam Amrullah adalah sebagai berikut: benar, jujur, adil, tegas, ikhlas, pemurah, ramah, merendah, dan alim.[34]
Al-Mawardi berpendapat lain didalam bukunya Al-Akhkam Al-Sulthaniyyah menyaratkan seorang pemimpin harus memiliki perilaku yang dicontohkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang mendasar dari sifat-siafat sebagai berikut: ‘al-adl ( adil), as-shiddiq (jujur), al-amanah (dapat dipercaya), al-wafa’ ( menepati janji), shahibu al-‘ilm wa ‘aql (memiliki pengetahuan dan mampu perfikir), as-syaja’ah (pemberani), as-syakha’ (dermawan), ar-rahman (kasih sayang), as-shabr (sabar), al-iffah wa al-haya’ (mengendalikan diri dan malu berbuat jelek), al-quwwah (memiliki kekuatan), al-khibrah al-siyasiyah wa al-idariyah (cerdik manajerial dan politik) dan yang terahir al-qudrah ala tasyji’ (mampu memotivasi).[35]
Sejalan dengan uraian diatas, menurut Permadi (2006) pada dasarnya sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin anata lain sebagi berikut: beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehat jasmani dan rohani, berilmu, berani, terampil, bijaksana, adil, jujur, penyantun, demokratis, paham keadaan ummat, berkurban, qanaah, istiqamah dan ikhlas.[36]
            Dalam Al-Qur’an disebutkan yang menjadi karaktristik kepemimpinan islam;
tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B Îû ÇÚöF{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î (#öqygtRur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ÍqãBW{$# ÇÍÊÈ  
(Yaitu) Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.[37]

                Dari uraian diatas menunjukkan bahwa pemimpin dan kepemimpinan dalam islam mempunyai rujukan naqliyah, artinya ada isyarat-isyarat Al-Qur’an yang memperkuat perlu dan pentingnya kepemimpinan. Satu hal yang sangat perinsip yang harus dilaksanakan oleh seseorang pemimpin dalam mengemban amanahnya yakni keadilan (al-‘adl), amanat (’amanah) dan musyawarah (syura).
                Dalam konsep islam semua orang adalah pemimpin dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Tuhan kelak di akherat. Adanya pertanggungjawaban ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin pada level dan posisi apapun niscaya mengemban amanah yang harus di laksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
B.  Gaya Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia.
Gaya adalah sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik yang bagus, kekuatan dan kesanggupan untuk berbuat baik. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku seseorang.
Gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seseorang pemimpin baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Pada suatu proses kepemimpinan berlangsung, seorang pemimpin biasanya mempunyai sifat, kebiasaan temperamen watak keperibadian sendiri yang unik dan khas. Kekhasannya gaya hidupnya sedikit banyak pasti mempengaruhi dan mewarnai kepemimpinannya. Sehingga muncullah suatu gaya kepemimpinan tertentu.
Menurut W. J Redin membentuk tiga pola dasar gaya kepemimpinan yaitu: task orientation (kepemimpinan yang beroreantasi tugas), relationship orientation (kepemimpinan berorentasi hubungan kerja) dan effectives orientation (kepemimpinan yang berorientasi hasil yang efektif).[38] Gaya kepemimpinan yang efektif ini merupakan gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi, mendorong, mengarahkan, mempertimbangkan kekuatan yang ada pada tiga unsur yaitu dari pemimpin, bawahan dan situasi secara menyeluruh serta menggerakkan orang-orang yang dipimpin supaya mereka mau bekerja dengan penuh semangat dalam mencapai tujuan organisasi.[39] Pada fakta riilnya, gaya kepemimpinan yang efektif ada empat, yaitu sebagai berikut.[40]
1.      Gaya Instruktif
Penerapannya pada bawahan masih baru atau bertugas. Adapun cirri-ciri gaya kepemimpinan instruktif adalah sebagai berikut:
a.       Memberi pengarahan secara spesifik tentang apa, bagaimana, dan kapan kegiatan dilakukan
b.      Kegiatan lebih banyak diawasi secara ketat
c.       Kadar direktif tinggi
d.      Kadar semangat rendah
e.       Kurang dapat meningkatkan kemampuan pegawai
f.       Kemampuan motivasi rendah
g.      Tingkat kematangan bawahan rendah.
2.      Gaya Konsultatif
Penerapannya pada bawahan yang memiliki kemampuan tinggi namun kemauan rendah. Cirri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Kadar direktif rendah
b.      Semangat tinggi
c.       Komunikasi dilakukan secara timbal balik
d.      Masih memberikan pengarahan yang spesifik
e.       Pimpinan secara bertahap memberikan tanggungjawab kepada pegawai walaupun bawahan dianggap belum mampu
f.       Tingkat kematangan pegawai rendah ke sedang
3.      Gaya Partisipatif
Kepemimpinan ini juga dikenal dengan istilah kepemimpinan terbuka, bebas, dan nondirective. Orang yang menganut pendekatan ini hanya sedikit memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan. Ia hanya menyajikan informasi mengenai suatu permasalahan dan memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk mengembangkan strategi dan pemecahannya. Tugas pemimpin adalah mengerahkan tim kepada tercapainya consensus. Asumsi yang mendasari gaya kepemimpinan ini adalah bahwa para karyawan akan lebih siap menerima tanggung jawab terhadap solusi, tujuan, dan strategi dimana mereka diberdayakan untuk mengembangkannya.
Gaya partisipatif, penerapannya pada bawahan yang memiliki kemampuan rendah, namun memiliki kemauan kerja tinggi. Cirri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Pemimpin melakukan komunikasi dua arah
b.      Secara aktif mendengar dan respon segenap kesukaran bawahan
c.       Mendorong bawahan untuk menggunakan kemampuan secara operasional
d.      Melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan
e.       Mendorong bawahan untuk berpartisipasi
f.       Tingkat kematangan bawahan dari sedang ke tinggi.
4.      Gaya Delegatif
Penerapannya bagi bawahan yang memiliki kemampuan dan kemauan tinggi. Ciri-ciri gaya kepemimpinan delegatif adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan pengarahan bila diperlukan saja
b.      Memberikan semangat dianggap tidak perlu lagi
c.       Penyerahan tanggungjawab kepada bawahan untuk mengatasi dan menyelesaikan tugas
d.      Tidak perlu memberi motivasi
e.       Tingkat kematangan bawahan tinggi.[41]
Sedangkan Menurut A. M Mangunhardjana, dilihat dari perbedaan cara menggunakan wewenangnya, pada garis besarnya kita mengenaltiga gaya kepemimpinan, yaitu gaya otokratis, liberal, dan demokratis. Masing-masing gaya kepemimpinan itu menentukan hubungan antara kekuasaan pemimpin dan kebebasan mereka yang dipimpin. Dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Gaya Kepemimpinan Otokratis.
Dalam gaya ini pemimpin bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai. Termasuk gaya ini kita menjumpai pemimpin-pemimpin yang melakukan hal-hal berikut.Gaya ini kadang-kadang dikatakan kepemimpinan terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya ini ditandai dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari pemimpin dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.Pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai tugas harus dikerjakan. Yang menonjol dalam gaya ini adalah pemberian perintah.Pemimpin otokratis adalah seseorang yang memerintah dan menghendaki kepatuhan. Ia memerintah berdasarkan kemampuannya untuk memberikan hadiah serta menjatuhkan hukuman.Gaya kepemimpinan otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan semata-mata diputuskan oleh pimpinan.
a.    Mengatakan segala sesuatu harus dikerjakan oleh mereka yang dipimpin. Inilah gaya kepemimpinan dictator. Yang dilakukan oleh pemimpin yang mengambil gaya ini hanyalah member perintah, aturan, dan larangan.
b.    Menjual gagasan dan cara kerja kepada kelompok orang yang dipimpinnya. Inilah gaya kepemimpinan seorang presiden direktur dalam suatu perusahaan besar. Menurut gaya ini, pemimpin merumuskan masalahnya serta menyodorkan cara pemecahannya sekaligus. Kemudian, perumusan masalah dan pemecahannya itu dijual kepada bawahannya.
2.    Gaya Kepemimpinan Liberal.
Menurut gaya ini, pemimpin tidak merumuskan masalah serta cara pemecahannya. Dia membiarkan saja mereka yang dipimpinnya menemukan sendiri masalah yang berhubungan dengan kegiatan bersama dan mencoba mencari cara pemecahannya. Gaya ini hanya baik untuk kelompok orang yang betul-betul telah dewasa dan betul-betul insaf akan tujuan dan cita-cita bersama sehingga mampu menghidupkan kegiatan bersama.
3.    Gaya Kepemimpinan Demokratis.
Dalam gaya ini pemimpin berusaha membawa mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dan cita-cita dengan memperlakukan mereka sebagai sejajar. Terrmasuk kedalam gaya ini, kita jumpai pemimpin yang dalam usaha membawa mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dengan hal-hal berikut.
a.    Menyajikan masalah serta cara pemecahannya kepada mereka yang dipimpinnya. Menghadapi masalah serta carapemecahannya yang disajikan oleh pemimpin itu, mereka yang dipimpin bebas untuk menggarapnya, mengubah, menambah, dan menyempurnakan. Pemimpin sendiri dengan senang hati menerima usul dan saran mereka.
b.    Mengajak mereka yang dipimpinnyauntuk bersama merumuskan masalah dan cara pemecahannya. Gaya kepemimpinan ini baik untuk kegiatan di kalangan orang-orang yang sudah dewasa yang bersifat permanen lagi mengarah ke tujuan dan cita-cita yang tinggi.
Dalam setiap realitasnya, pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya, terjadi adanya suatu perbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sebagaimana menurut G. R. Terry, seperti yang dikutip oleh Maman Ukas,[42]
1.      Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2.      Tipe kepemimpinan nonpribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media nonpribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3.      Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanyabekerja keras, sungguh-sungguh, teliti, dan tertib. Iabekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
4.      Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menanggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggungjawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggungjawab, seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggotadianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan.
5.      Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6.      Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya, timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan  muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikut berkecimpung.
Menurut Kurt Lewin, sebagaimana yang dikutip oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian sebagai berikut.
1.      Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus diataati.
2.      Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggungjawab tentang pelaksanaan tujuannya. Hal ini agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
3.      Laissez faire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, kemudian menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, dan semua pekerjaan tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya. Dengan demikian hal tersebut dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Kesimpulan gaya kepemimpinan pemakalah lebih condong dengan pendapat Tohardi dalam bukunya Edi Sutrisno (2009),[43] beliau menyebutkan gaya kepemimpinan dapat dikelompokan menjadi sepuluh gaya diantaranya: 1) gaya persuasif yaitu gaya memimpin dengan menggunakan pendekatan yang menggugah perasaan, pikiran, ajakan dan bujukan, 2) gaya refresif, yaitu gaya kepemimpinan dengan menggunakan tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa ketakutan, 3) gaya partisipatif yaitu gaya pemimpin dimana memberikan kesempatan kepada bawahan secara aktif baik secara mental, spiritual, fisik maupun materil dalam kifrahnya sebagai pemimpin organisasi, 4) gaya inovatif, 5) gaya investigatif, 6) gaya insfektif, 7) motivatif, 8) gaya edukatif, 9) gaya naratif yaitu pemimpin yang banyak bicara namun tidak kerja, dan 10) gaya retrogresif yaitu pemimpin yang tidak suka bawahan maju apalagi melebihi dirinya.
C. Tipe Kepemimpinan Manajemen Sumber Daya Manusia.
Tipe kepemimpinan merupakan faktor penentu yang senantisa menjadi tolak ukur sebuah pemerintahan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori yang di jelaskan oleh Max Weber yang mengatakan kepemimpinan dibedakan menjadi tiga  menurut jenis otoritas yang disandannya, yaitu: Otoritas Karismatik, Otoritas Tradisional, dan Otoritas Legal Rasional.[44]
Otoritas Karismatik, yaitu kepemimpinan berdasarkan pengaruh atau turun temenurun, bahwa peletakan kesetiaan pada hal-hal yang suci, kepahlawanan atau sifat-sifat individu yang patut dicontoh memiliki sifat yang jujur, cerdas dan sifat-sifat terpuji lainnya, dan pola-pola normatif yang diperlukan yang ditasbihkan olehnya.[45] Disamping itu Max Weber juga mengatakan titik berat dari karismatik terletak bukan pada siapa pemimpin tersebut, tetapi bagaimana ia ditanggapi oleh mereka yang berada dibawah kekuasaannya. Disamping itu disebutkan juga bahwa karisma terkadang terletak pada persepsi-persepsi rakyat yang dipimpinnya.[46]
Otoritas tradisional, yaitu kepemimpinan yang dimiliki berdasarkan pewarisan turun temenurun. jenis kepemimpinan ini didasari oleh kepercayaan yang telah mapan terhadap kesucian tradisi yang ada dan legitimasi atas status wewenang di bawah otoritas tradisional. Kepemimpinan jenis ini diperoleh atas dasar sejarah seorang pemimpin yang memperoleh jabatan kepemimpinan itu karena faktor keturunan, seperti raja atau kepala suku.
 Otoritas Legal Rasional, yaitu kepemimpinan yang dimiliki berdasarkan jabatan serta kemampuannya. Jenis ini merupakan kepemimpinan yang didasarkan kepada kepercayaan atas legalitas pola-pola normatif dan hak bagi mereka yang diangkat menjadi pemimpin.
D. Bagaimana Seharusnya Memimpin
Dalam sebuah lembaga pendidikan tentu sosok pemimpin yang paling diidamkan dan di harapakan adalah seorang pemimpin yang ideal dan dapat menjadi contoh suri tauladan yang baik, bersifat Shiddiq ( benar dan jujur), amanah (terpercaya, kredibel), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas),[47] maka disini setidaknya pemimpin harus memiliki daya tarik tersendiri (karismatik), pesioner atau transformatif dan efektif.
1.    Pemimpin Karismatik
Kata Kharisma adalah berasal dari bahasa Yunani, yang memiliki arti” Berkat yang terinspirasi secara agung, seperti kemampuan untuk melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan.”[48] Max Weber, sebagaimana dikutip oleh Gary Yukl, mengatakan bahwa Istilah charisma sesungguhnya hanya untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh yang bukan didasarkan pada tradisi atau otoritas formal, akan tetapi lebih atas persepsi pengikut bahwa pemimpin diberkati dengan luar biasa. Kharisma sesungguhnya terjadi ketika terdapat sebuah krisis social, pada saat itu pula seorang pemimpin muncul dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi untuk krisis itu, pemimpin tersebut menarik simpati pengikutnya sekaligus menawarkan visi dan solusi, dan pada saat itu pula mereka mengalami perubahan dan keberhasilan yang luar biasa, maka pada saat itu pemimpin tersebut dianggap oleh pengikutnya sebagai orang yang luar biasa.
Untuk bisa mewujudkan pemimpin yang kharismatik, seorang pemimpin perlu memiliki inteligensi yang tinggi, kematangan sosial, memiliki motivasi dan orientasi pada pencapaian, memiliki kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi yang baik.
Kepemimpinan kharismatik adalah kepemimpinan yang mampu membawa perubahan dalam sebuah lembaga atau organisasi, masalah ini diyakini karena kepemimpinan kharismatik terdidik secara alami melalui pembawaan yang dalam diri manusia, dimana sifat ini tidak bisa dimanipulasi dengan cara apapun. Performanya selalu menampilkan sesuatu yang mengagumkan dan mengesankan, baik dalam  bertutur ataupun berkata, ketika melangkah ataupun bertingkah selalu menonjolkan sesautu yang membuat orang lain terpaku. sebagai orang yang dihormati, disegani, dipatuhi dan ditaati secara rela dan ikhlas. Kepemimpinan kharismatik menginginkan anggota organisasi sebagai pengikutnya untuk mengadopsi pandangan pemimpin tanpa atau dengan sedikit mungkin perubahan.
2.    Pemimpin yang Efektif
Konsep tentang pemimpin yang efektif lebih banyak berasal dari dunia usaha dan industri dibanding bidang-bidang lainnya termasuk pendidikan. Dalam hal ini penulis berusaha meramu berbagai konsep tersebut agar dapat diterapkan pada dunia pendidikan. Penulis juga melihat bagaimana konsep kepemimpinan yang efektif.
            Pemimpin yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu menempatkan orang-orang sehingga mereka tidak bekerja menurut kehendaknya masing-masing dan menitikberatkan pada kepercayaan. Dia mampu membangun kepercayaan antara satu sama lain dan kompeten terhadap apa yang dikerjakannya.
Menghadirkan seorang pemimpin yang efektif merupakan dambaan banyak sekolah. Oleh karena fenomena kepemimpinan itu bersifat multikompleks dan unik, tidak terlalu mudah merekrut pemimpin yang benar-benar memenuhi persyaratan ideal. Persyaratan ideal seorang pemimpin sangat mungkin bisa disusun melalui kajian akademik. Namun, tetap saja akan ada bolong-bolongnya, ketika mereka yang dipandang paling memenuhi syarat pun berhasil direkrut. Pemimpin banyak berhadapan dengan banyak orang dan tidak ada satu orang pun yang sama potensi dan karakternya.
a.    Ciri-ciri Pemimpin Efektif
1)        Jujur, Kejujuran meningkatkan derajat kredibilitas pemimpin, sehingga membangkitkan kepercayaan dan keyakinan banyak orang kepada mereka. Bawahan ikut mendorong kebanggan yang lebih besar pada pemimpin yang jujur dan kredibel dalam organisasi. Mereka menghendaki pemimpin yang lebih kuat semangatnya dalam kerja sama tim, serta lebih menonjolkan perasaan kepemilikan dan tanggungjawab pribadi.
2)        Melakukan apa yang mereka katakan akan dilakukan.
3)        Menepati janji dan melaksanakan komitmen mereka.
4)        Memastikan tindakan-tindakan mereka konsisten dengan keinginan komunitas yang dipimpinnya.
5)        Memiliki gagasan yang jelas mengenai apa yang orang lain nilai dan apa yang bisa mereka lakukan.
6)        Percaya pada nilai yang melekat pada diri orang lain.
7)        Mengakui kesalahan. Mereka menyadari bahwa mencoba untuk menyembunyikan kesalahan adalah merusak dan mengikis kredibilitas.
8)        Menciptakan iklim saling percaya dan terbuka.
9)        Membantu orang lain untuk bisa sukses dan merasa diberdayakan.
10)    Mendorong anggota untuk berbuat lebih banyak.
11)    Pemimpin menunjukkan anggota mereka tidak hanya sebagai boneka atau pengambil keputusan. Anggota lebih menghormati pemimpin ketika mereka menunjukkan keinginan untuk bekerja bersama mereka.
12)    Menghindari ungkapan yang menimbulkan kebencian, keengganan, dan resistensi.[49]
3.    Pemimpin yang Transformatif.
Istilah transformasional dari kata to transform, yang bermakna mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Misalnya mentransformasikan visi menjadi realita. Kepemimpinan transformatif hadir menjawab tantangan zaman yang penuh dengan perubahan. Dalam terminologi motivasi Maslow, manusia di era ini adalah manusia yang memiliki keinginan mengaktualisasikan dirinya, yang berimplikasi pada bentuk pelayanan dan penghargaan terhadap manusia itu sendiri.
Pemimpin transformasional yaitu pemimpin yang selalu menunjukkan kepada proses pembangunan komitmen terhadap sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada pengikut untuk mencapai sasaran tersebut. Beberapa teori kepemimpinan transformasional mempelajari juga bagaimana para pemimpin mengubah dan membangun budaya organisasi agar lebih konsisten unutk mencapai sasaran organisasional
Dalam definisi lain tentang kepemimpinan tarnsformasioanal, adalah tipe pemimpin yang mengilhami pengikut-pengikut untuk mengatasi kepentingan-kepentingan diri mereka demi kebaikan organisasi dan mampu menimbulkan efek yang mendalam dan luar biasa terhadap pengikut-pengikutnya.[50] Kepemimpinan transformatif atau transformasional tidak saja didasarkan pada kebutuhan akan penghargaan diri, tetapi menumbuhkan kesadaran pada pemimpin untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kajian perkembangan manajemen dan kepemimpinan yang memandang manusia, kinerja, dan pertumbuhan organisasi adalah sisi yang saling berpengaruh. Pemimpin transformatif adalah pemimpin yang memiliki pandangan jauh ke depan dan berupaya memperbaiki dan mengembangkan organisasi bukan untuk saat ini tapi di masa datang. Oleh karena itu, pemimpin transformatif adalah pemimpin yang dapat dikataan sebagai pemimpin yang visioner.[51]
Konsep awal pemimpin transformatif ini dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses dimana pemimpin dan para bawahannya berusaha untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.[52]. Seorang pemimpin dikatakan transformatif diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan, dan rasa hormat para pengikutnya. Para pengikut pemimpin transformatif selalu termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi.
Diahir makalah ini, kami menyimpulkan bahwa sosok pemimpin yang diharapkan diabad dua puluh satu ini adalah pemimpin yang berperinsip menurut reinhartz dan beach (2004) sebagai berikut:
a)    Kepemimpinan yang dapat dipercaya (credible)
b)   Kepemimpinan harus menggunakan kebenaran
c)    Kepemimpinan harus menggunakan pengethuan nilai inti bersama
d)   Kepemimpinan harus mendengarkan seluruh suara guru, siswa, staf, orang tua, dan lain-lain
e)    Kepemimpinan harus meghasilkan visi yang baik
f)    Kepemimpinan harus berdasarkan data yang benar
g)   Kepemimpinan harus berjalan dengan introsfeksi dan refleksi
h)   Kepemimpinan harus memberdayakan dirinya sendiri dan orang lain, serta melibatkan orang lain dalam informasi dan pengambilan keputusan.
i)     Kepemimpinan melibatkan pengidentifikasian dan perlakuan terhadap hambatan-hambatan personal dan organisasional untuk berubah.[53]









BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1)   Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi dan mengelaborasi potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organissasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai.Pemimpin adalah orang yang dianut oleh orang-orang lain dalammencapai tujuan bersama.
2)   Pada suatu proses kepemimpinan berlangsung, seorang pemimpin mengaplikasikan suatu gaya kepemimpinan tertentu, antara lain gaya task orientation (kepemimpinan yang beroreantasi tugas), relationship orientation (kepemimpinan berorentasi hubungan kerja) dan effectives orientation (kepemimpinan yang berorientasi hasil yang efektif).
3)   Sosok seorang pemimpin yang ideal yang diharpkan adalah sosok yang memiliki sifat dan karakter karismatik, transformatif dan efektif.
Kami menyimpulkan bahwa sosok pemimpin yang diharapkan diabad dua puluh satu ini adalah pemimpin yang berperinsip menurut Reinhartz dan beach (2004) sebagai berikut:
a)    Kepemimpinan yang dapat dipercaya (credible)
b)   Kepemimpinan harus menggunakan kebenaran
c)    Kepemimpinan harus menggunakan pengethuan nilai inti bersama
d)   Kepemimpinan harus mendengarkan seluruh suara guru, siswa, staf, orang tua, dan lain-lain
e)    Kepemimpinan harus meghasilkan visi yang baik
f)    Kepemimpinan harus berdasarkan data yang benar
g)   Kepemimpinan harus berjalan dengan introsfeksi dan refleksi
h)   Kepemimpinan harus memberdayakan dirinya sendiri dan orang lain, serta melibatkan orang lain dalam informasi dan pengambilan keputusan.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Sofyan,  Islam on Leadershif, Jakarta: Lintas Pustaka, 2006.

Amrullah & Haris Budianto, Pengantar Manajemen, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.

Badeni, Kepemimpinan & Perilaku Organisasi,Bandung: Alfabeta, 2013.

Baharudin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam; Antara Teori dan Praktik Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Busro Lembari, Dirawat & Suekarto Indra Fachurdi, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Dubrin, Andrew J, The Complate Ideal’s Guides: Leadership, Edisi Kedua, Jakarta: Prenda, 2006.

Edi Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009.

FatahYasin, Ahmad, Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lembaga Pendidikan Islam, Malang: UIN-Malang Press, 2012.

G. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj, iilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1980.

Handoko,  T. Hani, MANAJEMEN Edisi Kedua, Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2009.

Hidayat, Kamaruddin & Ahmad Gaus A.F, ISLAM, NEGARA & CIVIL SOCIETY, Gerakandan Pemikiran Islam Kontemporer, Jakarta: Pramadina, 2005.

Kartodirja, Sartono, Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial, Jakarta: LP3ES, 1984.

Khaladun, Ibn, Mukaddimah, Terj Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011.

Komariah, Aan, Visionary Leadership, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

M. Tuwah, dkk, Islam Humanis, Jakarta: PT Moyo Segoro Agung, 2002.

Martin, Rodrik, Sosiologi Kekuasaan, Terjemah, Herjoediono, Jakarta: Rajawali Press, 1990.

Mawardi, Al-Akhkam Al-Sulthaniyyah, Beriut: Dar Al-Fikr, 1960.
Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif, Malang: UIN Maliki Press, 2009.

Moh. Haitami Salim & Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Nawawi, Hadari, Administrasi Pendidikan, Jakarta: CV Haji Masagung, 1998.

Noor, Ismail, Manajemen Kepemimpinan Muhammad SAW, :Mencontoh Teladan Kepemimpinan Rasul Untuk Kesempurnaan Manajemen Modern, Bandung:
Mizan, 2011.

Notosusasnto, Nugroho, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengantar), Jakarta: Inti Idayu Press, 1984.

Permadi, Pemimpin dan Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Raziq, Ali Abdul, Khaifah dan Pemerintahan dalam Islam, Bandung: Pustaka, 1985.

Rivai,Veithzal & Arviyan Arifin, Islamic Leadership; Membangun Super Leadership Melalui Spiritual, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Rivi, Veithzal & Dedy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi 3, Jakarta: PT Raja Wali Press, 2010.

Robbin, Stephen P., Manajemen Edisi keenam Jilid 2, Alih Bahasa: T. Hermaya, Jakarta: PT Prenhallindo, 1999.

Said, M. Mas’ud, KEPEMIMPINAN, Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Organisasi, Malang: UIN Maliki Press, 2010.

 Sutarto, Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989.

Sutarto, Dasar-Dasar Kepemimpinan Organisasi, Yogyakarta: Madauniversity Press, 1995.

Syakir Kartajaya, Muhammad, dkk, Syariah Marketing, Bandung: Mizan, 2006.
Tim, Ensiklopedi Indonesia, Edisi Khusus, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeven, 1990.

Ukas, Maman, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, Bandung: Ossa Promo, 1999.
Usman, Husaini, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan Edisi 4, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.

Yani Anshori, Ahmad, Menuju Khilafah Islamiyah; Perjalanan Ikhwanul Muslimin, (Yogyakarta: Siyasat Press, 2008.

Yukl, Gary, Kepemimpinan dalam Organisasi, (Leadership in Organization), Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Universitas Katholik Indonesia, 1994.

_________, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Leadership In Organisation, Alih Bahasa : Budi Supriyanto, Edisi Kelima, Jakarta : PT. Indeks, 2009.





[1] Q.S Al-Baqaroh [2]: 30
[2]Ismail Noor, Manajemen Kepemimpinan Muhammad SAW, :Mencontoh Teladan Kepemimpinan Rasul Untuk Kesempurnaan Manajemen Modern, (Bandung: Mizan, 2011), hlm. 19.
[3]G. E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, terj, iilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1980), hlm. 23.
[4]Kamaruddin Hidayat & Ahmad Gaus A.F, ISLAM, NEGARA & CIVIL SOCIETY, Gerakandan Pemikiran Islam Kontemporer, (Jakarta: Pramadina, 2005), hlm. 72.
[5]Husaini, Usman, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan Edisi 4, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 308.
[6] Baharudin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam; Antara Teori dan Praktik ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012) hlm. 47.
[7] Ahmad FatahYasin, Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lembaga Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2012), hlm. 24.
[8] Meldona, Manajemen Sumber Daya Manusia Perspektif Integratif, (Malang: UIN Maliki Press,2009), hlm. 1.
[9] Husaini Usman, Op. Cit, hlm. 308.
[10] Dirawat Busro Lembari, Suekarto Indra Fachurdi, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, ( Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 23.
[11] Andrew J Dubrin, The Complate Ideal’s Guides: Leadership, Edisi Kedua,  (Jakarta: Prenda, 2006), hlm. 4.
[12]Ibid, hlm. 47.
[13] Ibid, hlm. 47.
[14]Ibid, hlm. 48.
[15] Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1998), hlm. 81.
[16] Edi Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2009), hlm. 213.
[17]Sutarto, Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989), hlm. 5
[18] Sutarto, Dasar-Dasar Kepemimpinan Organisasi, (Yogyakarta: Madauniversity Press, 1995), hlm. 414
[19]T. Hani Handoko,  MANAJEMEN Edisi Kedua, (Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2009), hlm. 294
[20] Sofyan  Ahmadi, Islam on Leadershif, (Jakarta: Lintas Pustaka, 2006), hlm. 31.
[21]Baharudin dan Umiarso, Op Cit. hlm. 51.
[22] Muhammad Syakir Kartajaya, dkk, Syariah Marketing, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 120.
[23]Badeni, Kepemimpinan & Perilaku Organisasi, ( Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 145.
[24]Q. S. Al-Baqarah, [2]: 30.
[25] M. Tuwah, dkk, Islam Humanis, (Jakarta: PT Moyo Segoro Agung, 2002), hlm. 2.
[26] Ibid, lihat pula Ahmad Yani Anshori, Menuju Khilafah Islamiyah; Perjalanan Ikhwanul Muslimin, (Yogyakarta: Siyasat Press, 2008), hlm. 57.
[27]Hendro Darmawan, Op Cit, hlm. 299.
[28]Ali Abdul Raziq, Khaifah dan Pemerintahan dalam Islam, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 4.
[29] Ibn Khaladun, Mukaddimah, Terj Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011), hlm. 234.
[30] Q. S. Shaad, [38]: 26.
[31] Q. S. Al-An’am, [6]: 165.
[32] Moh. Haitami Salim & Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm.98.
[33]Veithzal Rivai & Arviyan Arifin, Islamic Leadership; Membangun Super Leadership Melalui Spiritual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 136.
[34] Amrullah & Haris Budianto, Pengantar Manajemen, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), hlm.250.
[35] Mawardi, Al-Akhkam Al-Sulthaniyyah, (Beriut: Dar Al-Fikr, 1960), hlm. 6.
[36]Permadi, Pemimpin dan Kepemimpinan Dalam Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 65.
[37] Q. S. Al-Hajj, [22]: 41.
[38] M. Mas’ud Said, KEPEMIMPINAN, Pengembangan Organisasi Team Building dan Perilaku Organisasi, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm. 258
[39] Veithzal Rivi & Dedy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi 3, (Jakarta: PT Raja Wali Press, 2010), hlm. 43.
[40]Baharudin dan Umiarso, Op Cit ,hlm. 53
[41] Kartini Kartono, Op Cit hlm. 30.
[42] Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung: Ossa Promo, 1999), hlm. 261.
[43] Edi Sutrisno, Op Cit. Hlm. 222-224.
[44]Nugroho Notosusasnto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengantar), (Jakarta: Inti Idayu Press, 1984), hlm. 150.
[45]Rodrik Martin, Sosiologi Kekuasaan, Terjemah, Herjoediono, (Jakarta: Rajawali Press, 1990), hlm. 147.
[46]Sartono Kartodirja, Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial, (Jakarta: LP3ES, 1984), hlm. 167.
[47] Ahmad Fatah Yasin, Pengembangan,,,. Op. Cit, hlm. 96.
                [48]Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Leadership In Organisation, Alih Bahasa : Budi Supriyanto, Edisi Kelima, (Jakarta : PT. Indeks, 2009), hlm. 290.
[49] Tim, Ensiklopedi Indonesia, Edisi Khusus, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeven, 1990),  hlm. 883.
[50] Stephen P. Robbin, Manajemen Edisi keenam Jilid 2, Alih Bahasa: T. Hermaya, (Jakarta: PT Prenhallindo, 1999 ), hlm.508.
[51] Aan Komariah, Visionary Leadership, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 77.
[52] Gary Yukl, Kepemimpinan dalam Organisasi, (Leadership in Organization), Edisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Universitas Katholik Indonesia, 1994), hlm. 29.
[53] Husaini Usman, Op. Cit, hlm. 407-412.