Minggu, 22 April 2018

DONGENG BALANG KESIMBAR



A.BALANG KESIMBAR
Di zaman dahulu disebuah desa hiduplah seorang nenek tua bersama cucunya semata wayang yang sudah lama ditinggal mati sang ibu, mereka menghabiskan sisa hidupnya dengan hanya jadi tukang kuli ditetangganya, pada suatu hari sang raja mengadakan pesta besar-besaran pesta untuk hitanan putra mahkota dan diadakan diistana raja  yang bdimeriahkan dengan sandiwara, raja memerintahkan untuk mengumumkan pesta itu ke seluruh wilayahnya, singkat cerita,,, waktu pesta pun tiba, warga pun berdatangan  warga yang mau menonton harus bayar kalau tidak maka tidak diizinin untuk masuk, satu persatu warga masuk menyaksikan sandiwara yang diadakan dalam istana, hingga balang kesimbar pun datang kepesta namaun ia tak punya uang karcis, ia mau masuk namaun penjaga tak mengiziankannya, karna tidak punya uang bayar karcis, dia disuruh pulang, berkali-kali ingin masuk namun tetap dihalau penjaga pintu, balang kesimbar ingin melihat dari jendela, jendelapun ditutup.acara makin seru, sementara balang kesimbar pingin sekali menyaksikan tontonan namun pintu sudah ditutup ia pun berpikir sejenak sebelum pulang. Ia membuat patung macan  dengan tujuh mata dan diletakkan persis depan pintu masuk, balang kesimbarpun pulang dengan penuh rasa sedih karna tak dapat menyaksiakan sandiwara, acarapun selesai warga satu persatu keluar, begitu pintu dibuka warga yang melihat patung itu terkejut dan teriak ada yang lihat langsung pingsan karna melihat seekor macan  depan pintu, wargapun panik ketakutan, sang raja langsung memerintahkan untuk menagkap macan  itu, namun setelah lama-kelamaan warga tau kalau itu patung macan  bukan asli, sang raja langsung mencari siapa yang membuat patung itu dan meletakkannya didepan pintu, penjaga pun tak luput dari pertanyaan raja siap yang membuat patung itu. Penjaga menjawab “ada satu anak muda yang tak punya uang dan tidak bisa masuk” raja pun memerintahkan untuk mencari anak itu dan menagkapnya, balang kesimbar pun ditemukan dan ditangkap dan dibawa ke hadapan raja. Balang kesimbar di introgasi raja raja bertanya “siapa yang membuat patung macan  dengan tujuh mata itu? Balang kesimbar menjawab dengan nada rendah “hamba paduka” hamba membuat patung karna tidak diberi masuk padahal hamba ingin sekali menonton” raja berkata kamu tau apa hukuman yang setimpal ? hamba siap dihukum paduka, timpal balang kesimbar, raja pun menyuruh balang kesimbar untuk mencari macan  tujuh mata yang digambarnya itu, balang kesimbar menangis terisak-isak membayangkan kemana ia harus mencari dan kalaupun mencari ia harus meninggalkan neneknya yang udah tua renta tanpa ada yang merawatnya. Ia pun terdiam membisu merembahkan raga dihadapan raja smbil menagangkat kepala balang kesimbar menyanggupi hukuman raja ia pamit pulang pada raja dengan sedih yang luar biasa sambil menangis. Sesampai dirumah neneknya, Ia pun memeluk erat-erat neneknya karna ia sadar kalau itu pertemuan terahir dan tidak tau seberapa lama ia berpisah dengan neneknya, neneknya pun betanya “ ada apa cucuku,, ada apa ? balang kesimbar mendudukkan neneknya sambil pelan-pelan ia tenangkan diri agar neneknya tak kaget,, nek,, aku sayang, kangen ma nenek, begini nek balang kesimbar mengatur kata-kata agar neneknya ndk sedih “saya diperintahkan raja untuk mencari macan  tujuh matanya sebagai  tunggangan anak raja, neneknya pun tersenyum karna cucunya dapat perintah dari raja ia merestui cucunya meninggalkan dirinya walau ia harus sendiri,
Pada mlam hari neneknya membuatkan cucunya tipat sama saur kelapa cicampur dengan beras yang digoreng (moto siong, gule kelape) sebagai bekal cucunya dalam perjalanan mencari macan  yang dimaksud. Neneknya berpesan cucuku kamu harus mencari ke arah barat dimana matahari terbenam, malam itu ia habiskan dengan canda tawa ma neneknya sambil mengemas perbekalan, ia tak ingin neneknya sedih ditinggal. Namun sang nenek menyemangatinya sambil berdo’a ia pasti dapat macan  yang dicari itu. Pagi pun tiba ia harus pergi. Balang kesimbar pamitan pada neneknya sambil mencium tangan dan kening neneknya iapun berjalan ke arah barat sebagaimana yang diperintahkan neneknya, air mata balang kesimbar pun tak dapat terbendung menetes membasahi pipinya, ia berjalan meninggalkan neneknya yang selama ini memebesarkannya. Balang kesimbar berjalan sendiri dengan berjalan kaki naik gunung turun gunung dilaluinya, siang malam ia terus berjalan tak peduli apa yang terjadi pada dirinya setelah itu, ia bertekad sebelum mendapatkan macan  ia tak akan pulang, ahirnya ia pun sampai pada sebuah lembah yang sangat luas dan hijau. Dia makin dekat dengan lembah ternyata lembah itu dipenuhi oleh ular yang sangat banyak dan besar-besar. Ia kebingungan kemana jalan melewatinya dan bagaimana ia harus menghindari sekumpulan ular itu karna ia sudah dilihat oleh ular-ular itu. Raja ular itupun berkata “ haaha.. ha ada makanan kita hari ini ada anak manusia, balang kesimbar tenngkan diri ia berkata wahai raja ular kasihi aku, aku disuruh sang raja ku untuk mencari macan  tujuh matanya, ahh anak manusia ini bohong,, timpal raja ular, tolonglah kasih aku lewat, balang kesimbar menawarkan makanan pada sang raja ular berupa topt dan  mengeluarkan moto siong tadi dan menaburkannya kesekeliling ular-ular itu, singkat cerita ular-ular itu pun memakan moto-moto tadi dan memberikan jalan lewat kepada balng kesimbar. Balang kesimbar pun selamat dan melanjutkan perjalanan ke arah barat turun gunung naik bukit masuk hutan keluar hutan balang kesimbar tak menrasa menyerah ia yakin pasti ia akan menemukan apa ang ia cari. Ahirnya ia pun ketemu lagi dengan sebuah lembah yang sangat luas dan dipenuhi oleh kelabang dan kalajengking yang angat besar-besar, balang kesimbar mendekati lembah itu, begitu dilihat oleh kerumunan kelabang raja kelabang berkata ‘ hari ini kita kedatangan makanan yang sangat lezat, balang kesimbar ketakutan namun ia menenagkan diri dan merayu raja kelabang tadi dengan menceritakan tugasnya raja kelabang itupun mera kasihan dan menyuruh anak buahnya menyingkir, balang kesimbarpun menaburkan moto siong tadi kepada kerumunan kelabang dan kalajengking. Ia selamt dan melanjutkan perjalanan menuju barat, sekian lama balang kesimbar berjlan memasuki hutan dan bukit ia pun kehabisan tenaga dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Namun ia dikejutkan didepannya terdapat anak gunung yang hitam dan tak ditumbuhi kayu dan berbau, pada hal di tengah-tengah hutan. Balang kesimbar  mendekat dan ternyata itu bukan anak gunung akan tetapi, kototan raksasa yang sangat besar, balng kesimbar ketakutan dan segera melanjutkan perjalanan ternyata ia mendapatkan sebuah rumah dan dihuni oleh seorang putri yang sangat cantik jelita, sedang duduk dibawah sepohon kayu, balang kesimbarpun diam-diam mendekat dan rasa takutnya hilang. Balang kesimbar maikin mendekat dan naik keatas pohon pas dimana sang putri duduk, balang kesimbar pun dengan penuh tanya dan memetik bunga pohon yang bewarna me hitam dan menjatuhkan pas didepan putri, sang putri pun memungutnya, balang keskimbar memetik bunga yang berwarna merah dan menjatuhkannya, putri itupun memungutnya, balang kesimbar memetik bunga yang berwarna kuning dan menjatuhkannya ke depan putri, putri pun memungutnya, putripun belum menoleh keatas, balang ksimbar memetik bunga ang berwarna putih dan menjatuhkannya, putripun mengumpulkannya, putri pun heran ada empat macam bunga yang berbeda jatuh kedepannya, ahirnya ia menengok ke atas ternyata ada pemuda yang menjatuhkannya, putri pun menyuruh untuk turun karna takut kalau ia diketahui oleh  kakeknya pasti ai akan dimakan hidup-hidup. Balang kesimbar ahirnya turun dan segera memperkenalkan dirinya dan apa yang selama ini ia cari. Ahirnya sang putri menyuruh menginap dirumahnya dan siap untuk membantu mencari macan  tujuh mata. Balang kesimbar berbincang-bincang bersama putri tadi ahirnya haripun makin sore tiba-tiba terdengar ringan rantai yang menumpuk depan rumah, putri pun menyembunyikan balang kesimbar dalam sebuah gerapah terbuat dari tanah (bong), ternyata suara itu adalah rantai kakek dari putri tadi yang tak lain adalah raksasa yang sangat besar dan memiliki kotoran kayak anak gunung tadi, raksasa yang besar itu rupanya baru pulang begitu turun dan sampai rumah raksasa itu pun mencium bau anak manusia, sambil mengaung “ ambunn uong” ambunn uong,,,” putrinya menjawab “bukaan itu bau ku yang dulu” raksasa itu tidak percaya segera masuk rumah dan mencari dalam rumah raksasa itu tak menemukan apa-apa. Raksasa itu pun diam dan segera minta pada putrinya untuk disediakan makanan. Setelah makan yang menghabiskan se ekor kerbau ia pun pergi lagi terbang ring-ring kata rantainya, begitu raksasa itu pergi, putri pun mengeluarkan balang kesimbar dan mengajaknya untuk bincang-bincang menghabiskan hari-harinya karna sudah lama tak yang temani, ahirnya putri itu jatuh cinta dan iapun siap membantu balang kesimbar, keesokan harinya lagi kakekna pun pulang putri segera menyembunyikan balang kesimbar pada gerapah, kakaeknya dari kejauhan sudah mengaung mencium bau balang kesimbar seperti biasa ia berkata “bau anak manusia” bau anak manusia,,, putrinya menyahut tidak itu bau saya yang dahulu raksasa masuk rumah dan mencari sekitar rumh iapun tidak mendapatkan apa-apa, raksasa itu pun diam, sang putri mendekati kakeknya ia minta kakeknya mencarikan se ekor macan  tujuh matanya sebagai temen bermain dirumah karna kakeknya setiap hari pergi. Kakeknya pun menyetujui dan segera pergi mencari, kakaeknya terbang kearah timur seharian mencari namun tidak menemukannya raksasa itu pun pulang. Besok harinya lagi ai terbang mencari kearah timur lagi. Ahirnya singkt cerita ia menemukan sekumpulan macan  yang sangat luas. Raksasa itu pun melihat-lihat dari atas setelah lama mencari ahirnya ia melihat macan  yang dicari itu ada dan segera ia turun dan menangkapnya namun iapun dapat perlawanan dari macan  itu setelah lam bergulat macan  itu kalah dan segera raksasa itu mengikatnya dengan rantai setelah selesai raksasa itupun terbang membawa macan  tadi, raksasa itu terbang tinggi keangkasa dan menuju rumahnya, ahirnya sampai diatas rumah raksasa itu turun dan segera mengikat macan  itu di pohon dimana sang putri biasa duduk sendiri, raksasa itu langsung memanggil putrinya dan menunjukkan asil buruannya itu, girang sang cucu tak tertahan ia langsung memeluk kakeknya. Sang kakek yang leleh hilang melihat cucunya memeluknya, tapi sang putri tau kalau kakeknya bakal ia tinggalkan ia minta yang keduakalinya lagi. Putri itu minta perhiasan emas yang banyak, kakaeknya pun menyanggupi permintaan cucunya, ke esokan harinya ia pun terbang mencari perhiasanke arah barat, begitu kakeknya melesat, putri pun mengeluarkan balang kesimbar dan mengajaknya untuk pulang dengan menunggang macan  tujuh mata itu sebagai kendaraan. Konon ceritanya macan  itupun bisa terbang. Balang kesimbar dan putri raksasa pun menaiki macan itu dan terbang, macan itu terbang menancap keatas dan tebang kearah timur, putri itupun membawa bunga empat warna tadi jadi senjata melawan kakeknya bila mengejarnya. kakeknya pun pulang dan ternyata setelah turun depan rumah cucunya sudah tidak ada dipanggil-panggil taka ada ia cari seluruh tamn tak ada, iapun menoleh ke atas ternyata ia terbang dibawa macan, segera ia terbang mengejar cucunya tapi begitu hampir mendekat dengan macan itu putrinya melemparkan bunga yang berwarna putih, begitu melempar bunga itu berubah jadi awan yang tebal sehingga menghalangi pengelihatan kakeknya, kakeknya pun terjatuh, begitu melihat kakeknya terbang mengejar lagi begitu dekat putri melempar kakeknya dengan bunga yang hitam sepontan bunga itu jadi hujan yang lebat, kakeknya pun tak bisa terbang karna terhalang hujan yang membasahi sekujur tubuhnya ia pun jatuh lagi  setelah kering raksasa itu lagi terbang mengerajar cucunya, tapi lagi-lagi begitu mendekat kira kira lagi seratus meter ia lemparkan bunga yang warnanya kuning. Begitu dilemparkan bunga itu berubah jadi api, raksasa itu pun terbakar dan mati, balang kesimbar dan putri pun selamat dan sampai rumah kampung balang kesimabar. Balang kesimbar turun dan segera menemui neneknya, ternyata neneknya sudah meninggal. Balang kesimbar pun sedih dan putri raksasa itu pun dia nikahi jadilah mereka susmi istri. Setelah sehari balang kesimabar menyerahkan macan tujuh matanya itu pada raja, begitu menyerahkan macan itu, balang kesimbar bebas dari hukuman dan pulang, balang kesimbarpun hidup bersama istri tercintanya.
Tamat











B. SEMIPIN SEMIPE

Pada zaman dahulu disebuah pedesaaan ada keluarga yang hidup dipinggir hutan, seorang ibu dan dua dua orang anak yang bernama semipin (kakak) semipe (adek), ceritanya hidup dalam kesederhanaan yang pekerjaannya sehari hari tidak menentu selain jadi petani ibu dua anak ini juga berdagang sedang kedua anaknya sesekali membantu ibu mencangkul disawah yang bedekatan dengan rumahnya,
Saat ibu mereka mau kepasar untuk belanja (meken, lombok) kakak adek ini memesen pada ibunya untuk belikan getah untuk dipsang menangkap burung yang dekat rumahnya memang banyak macam jenis burung.
Ibunya membelikan getah, pada ke esokan harinya kakak beradik ini pagi-pagi pamitan kepada ibunya untuk pergi memasang getah untuk hasil tangkapannya nanti dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Setelah sampai disebuah pohon beringin yang besar,disitulah kakak adik ini memasang getah itu, setelah selesai memasang merekapun turun menunggu dibawah pohon besar itu, beberapa kemudian dari segala penjuru burung-burung berkicau mendatangi pohon tempat mereka habiskan hari untuk makan, mulai dari burung yang kecil sampai yang besar, hingga pohon itupun penuh dengan bermacam-macam burung, ternyata malang nasif burung-burung itu  hampir semua tertangkap oleh getah semipin semipe. Setelah itu mereka naik menangkap burung-burung yang terlilit getah itu dan memasukkan ke dalam keranjang (sejenis sangakr) yang dbawa. Setelah selesai mereka turun keranjang itupun penuh dengan burung-burung hasil tangkapan hari itu, kakak beradik ini kebingungan dengan hasil tangkapannya, semipin mengusulkan untuk disemblih sebagian dan dibawa pulang untuk dijual, semipin pun pulang ambil pisau untuk menyembih burung-burung itu, sementara semipe ditugaskan menjaga burung-burung ituseraya menunggu kakaknya yang pulang, burung-burung itu sedih begelimang air mata karna mereka tau akan disembih satu persatu, tiba-tiba burung yang paling besar yang bernama tebango brung berkata “ wahai tuan,,,!  minta lepaskan kami, kami punya keluarga dirumah, kalau kami disemblih bagaimana dengan nasif anak-anak kami, lepaskan kami,,, sambil nada penuh kesedihan, semipe terbengong kaget ternyata burung besar itu bisa bicara, bango berung melanjutkan permintaannya, jikalau tuan tidak percaya,,, elus bango berung, semipe berkata “apa buktinya” cabut bulu ekorku dan nanti cari aku dengan bukti erkorku ini, tuan bisa berjalan ke arah timur terbitan matahari muncul, dengan mengikat ekorku ini dan terbangkan ikuti kemana arahnya, ahirnya semipe menyetujuinya, dengan segera ia mencabut ekor bango berung dan melepas semua burung-burung tangkapanya tanpa kecuali setelah itu, datanglah kakanya semipin, dilihatnya burung-burung itu tidak ada ia pun marah dan segera menanyakanya “ kemana burung-burung itu,, semipe menjaab burung itu ku lepas karna ada rajanya minta dilepas semipe pun marah dan memukuli adiknya sampai pingsan dan meninggalkannya, semipin pun pulang meninggalkan adiknya dibawah pohon beringin itu sendiri dalam keadaan pingsan, beberapa kemudian semipe sadar dan dia tau sudah ditinggal kakaknya pulang, hari makin sore ia pun ndk berani pulang ahirnya ia segera pergi ke timur untuk mencari rumah tebango berung, sesampainya dirumah ibu kakak beradik ini bertanya “ mana adikmu semipin,, semipin sedikit terdiam,, mana adikmu ibu bertanya sedikit keras,, dia,, dia terjatuh dari pohon dan..dan ,, ibunya tak tahan dengar  jawaban anaknya ia menagis histeris dan lari segera ke dalam hutan tempat kedua anaknya pasang getah, untuk mencari anaknya.. ibunya pun kelelahan mencari anaknya sambil memanggil-manggil namanya, tapi semalaman tak ditemukan.haripun makin larut ibu dua  anak ini sibuk mencari anaknya sampai sehari malam, namun tak menemukan anak bungsunya itu,  iapun pulang dengan kesedihan yang mendalam. Hatinya hancur lebur laksana tai bebek kehujanan,,sedih luar biasa. Sementara semipe sudah pergi ke arah timur tak berani pulang, Semipe pun jalan ketimur mengikuti ekor bango berung itu terbang terus ketimur dengn perjlanan berhari hari, ditengah jalan ia bertemu dengan  seorang tua dengan berpakaian kusut compang camping dengan kepala tertutup songkok bambu, semipe pun bertanya pak-pak,, dimana rumah tebango berung? Kenal tidak ! pak tua itu terdiam menarik nafas ia menjawab ya kenal disana rumahnya sambil menunjuki dengan telunjuk ke arah timur, pak tua itupun mengantarkan pemuda itu, sesampainya depan rumah tebango berung, pemuda itupun tertegun lihat rumah yang megh dan mewah itu dia sungkan untuk masuk, dia disambut anak-anak tebango berung semipe kaget setelah pak tua itu dipanggil anak-anaknya “ bapak pulang,,! ternyata pak tua itu adalah tebango berung yang selama ini ai cari, ia pun masuk, pak tua itu berkata “akulah yang kamu cari-cari aku tebango berung yang dulu kau selamatkan,, dan ini anak-anakku, semipe pun membisu seribu kata mendengarkan cerita tebango berung, sampai pada ahirnya semipe dinikahkan sama salah seorang putri tebango berung, semipe pun dikasih kuda, merekapun hidup sakinah rukun beberapa tahun kemudian, semipe ingin pulang kekampung kelahirannya menemui ibu yang dicintainya yang penuh belaian  kasih sayang. Semipe minta izin pulang membawa istrinya,ia pun diizinkan dan dikasih seekor kuda jantan. Merekapun pamitan dan menakiki kuda, kudanya lari kencang kebarat setelah menempuh perjalanan yang panjang ahirnya sapailah dikampung halamannya, semipe turun dan segera mencari ibunya, ternyata ibunya telah meninggal karna tidak mau makan karna sedih ditinggalin anak-anaknya, sementara semipin juga menghilang entah kemana. Hati semipe jadi berubah sedih luar biasa, ia tinggal bersama istrinya dan membngun istana megah yang dengan kesaktiannya ia memiliki mong ginimong,(sejenis mu’jizat apa yang diminta dikabulkan ) ia juga memiliki batek bontong ( pedang tumpul) yang bisa mengamuk sendiri dengan perintah sang empunya, semipe berkata “ mong ginimong kasih saya rumah mewah,,! Setttt, jadilah rumah mewah dengan pernak perniknya, kamar yang mewah, harta yng melimpah, ke esokan harinya tetangga sebelahnya yang kesehariannya lalu lintas lewat jalan kampung yang tadinya jelek dan kumuh itu berubah laksana istana mereka pun mampir dan sesegera mereka disambut dan dikasih beras sama-sama satu karung, merekapun pulang dan menceritakan kejadian yang dialami saat melintasi rumah yang mewah dipinggir jalan tersebut, mendengar cerita tersebut keesokan harinya mereka rame-rame mendatangi rumah tersebut, ternyta benar begitu mereka dilihat melintas dekat rumah semipe, mereka dipanggil untuk mampir dan ternyata mereka dibagikan beras sama-sama sekarung lagi, mereka riang dan mengucpksn terimakasih pada semipe sambil pamitan dengan membawa sembako yang dibagikan oleh semipe. Waktupun berjalan cerita dari mulut ke mulut tersebar luas tentang kemistriusan rumah dan penghuninya yang tidak lain ialah semipe dan istrinya. Cerita itu sampai ketelinga sang raja yang memimpin desa itu, sang raja merasa penasaran, ahirnya ia mengutus seorang mata-mata untuk mengetahui kebenaran cerita itu. Mata-mata itu jalan menelusuri jalan ke mana rumah itu berada sambil menyamar ia tanyakan siapa punya rumah dan dari mana.. ia pun tau bahwa yang tinggal dirumah itu seorang pemuda yang tampan dan istri yang cantik, ia segera pulang dan menceritakan kepada paduka raja tentang apa yang dilihat dan yang ia dengar tentang semipe dan isrtinya yang tidak lain adalah anak seorang ibu dan dua saudara yang dulu hidup serderhana dipinggir hutan. Raja pun makin penasaran ia segera mengumumkan kepada rakyatnya untuk pesta kerajaan dan mengundang semipe untuk jadi tamu undangan,  niat raja ingin membunuh semipe dan mengambil istrinya, semipe pun diundag oleh mentri sang raja untuk menghadiri pesta yang diadakan rajanya, semipe menyanggupinya namun, semipe mengetahuinya niat sang raja bahwa ia mau dibunuh dan mau mengamabil istrinya serta kekayaannya, semipe pun tak tinggal diam ia segera membuat patung yang mirip diri dan istrinya dengan tepung, lanjut cerita patung itupun dibuat mirip sekali dan bisa bicara dengan bantuan para jin yang semipe miliki, begitu hari yang ditentukan untuk menghadiri pesta itu, patung-patung itupun berjalan hadiri undangan sang raja, dan begitu samapi didepan kerajaan ia disambut riang sama parajurit dan dayang kerajaan, ia disilahkan untuk masuk, mereka para tamu yanglain kesimak dengan kecantikan istri semipe itu, sementara sang raja memerintahkan untuk membuatkan minuman dan dibumbuhi racun agar semipe meninggal. Tapi sayang itu bukan semipe beneran melainkan patung yang dikendalikan jin ayang di miliki semipe, sang raja menyambut hangat serta mempersilahkan untuk menikmati hidangan dan minuman yang telah disediakan untuknya, semipe pun menikmati dan meminum jamuan itu, singkat cerita, dengan meminum minuman yang dibumbuhi racun tadi semipe pun dan istrinya pingsan sang raja gembira sekali sesegera mungkin ia memerintahkan untuk mendatangi rumah semipe untuk mengambil hata bendanya, mereka berlari  berbondong-bondong menuju rumah semipe,, ups mereka kaget ketika mau masuk rumah semipe, merka melihat semipe ada dirumah bersama istrinya, mereka bengong tercengang kok dia ada dirumah padahal udah mati diracun, ahirnya dengan tanpa sepatah kata mereka kembali pulang dengan membawa tanda tanya dan rasa malu, rajapun bengong keheranan, raja maikin cemas karna terancam dirinya tersaingi dengan keberadaan semipe dan istrinya itu. Ke esokan harinya ia berniat untuk mengundangnya lagi, kali ini ia ingin mengundang semipe untuk memanjat pohon kelapa, betul dia diundang, seperti biasa semipe membuat patung lagi dengan minta bantuan jin masuk dalam patung. Pembuatn patung pun telah jadi, pagi-pagi sekali patung itu berjalan memenuhi undangan raja, raja menyambut hangat kedatangan semipe ia dijamau sebelum memanjat pohon. Setelah selesai makan dan minum semipe diajak kekebun yang dimakud untuk memanjat pohon kelapa, semipe pun siap-siap naik, ketika sudah naik kira-kira seperempat pohon, raja segera memerintahkan algojonya untuk menebang pohon itu biar semipe meninggal, ahirnya algojo menebang pohon itu,  pohon itupun tumbang dan semipe ikut dan meninggal. Raja pun tawa riang dan bekata “ ahirnya kau meninggal juga...!”  raja segera memerintahkan bala tentaranya untuk mengambil harta dan menangkap istri semipe, setibanya depan rumah semipe ,bala tentara itu tercengang ketika melihat bahwa semipe masih hidup dan ada dirumah itu, lalu yang ikut tumbang dan meninggal saat memenjat pohon kelapa itu siapa?  Bala tentara itupun berbalik dan melaporkan kejadian yang dilihat. Raja pun makin gerang dan marah, ia bepikir sejenak,, lalu terbesit ide lagi ia ingin mengundang semipe lagi kali ini untuk menggali sumur , raja memerintahkan salah satu bala tentaranya untuk mengundang dan meminta bantuan semipe untuk membuatkan raja sumur, niat raja rupanya diketahui juga, ahirnya semipe menyanggupinya, seperti biasa semipe membuat patung mirip dirinya dengan tepung dan minta jin masuk dlm patung tepung tersebut. Keesokan harinya ia pun pergi memenuhi permintaan raja, sesampai dirumah sang raja semipe langsung disuruh gali sumur, semipe pun menggali sumur yang sebenarnya patung namunjin yang masuk menggerakan patung itu dan itu jin yang bekerja, kira-kira begitu dua belas meter raja memerintahkan untuk menimbun semipe dengan batu dan tanah, ahirnya semipe tertimbun dan meninggal. Sangkaan kali ini raja sudah yakin semipe sudah mati, rajapun memerintahkan semua bala tentaranya untuk kerumah semipe, lagi-lagi semua bala tentara heran dan malu melihat semipe dan istriny ada dirumahnya, raja kehabisan rasa sabar ia memerintahkan untuk menyerang,, menyerbu rumah semipe, semipe pun tidak tinggal diam ia melawan dengan menyuruh batek bontongnya melawan, dai ia nenonton dari dalam rumah, batek bontong pun mengamuk sampai hampir semua bala tentara terbunuh dengan batek bontong itu, melihat kesaktian semipe raja pun menyerah dan mengaki kekuatan semipe, semipe pun diangkat jadi raja didesa itu menggantika raja sebelumnya, jadilah semipe raja yang adil bijaksana rakyat hidup tentam dan sejahtra.
Sekian










C.   TEGODEK-GODEK KANCE TETUNTEL-TUNTEL
Zaman dahulu semasih semua binatang bisa berbicara, hiduplah sepasang teman yang  setia makan bersama tidurpun kadang-kadang berdua sering saling mewngunjungi saking akarabnya.  Pada satu hari tetuntel-tuntel sama tegodek-godek  mandi hujan bersama, kebetulan tetuntel-tuntel melihat sebatang pohon pisang yang dibawa arus sungai tetuntel pun tak melewati kesempatan itu , ia segera melompat mengambil pohon pisang yang terseret air tadi dan membawanya kedarat, setelah sampi darat tetuntel-tuntel mau menanamnya, namun tegodek-godek minta supaya dibagi  tidak mau menanam secara bersama. Ahirnya sebagi sahabat setia tetuntel-tuntel  mau membaginya, tapi tetuntel-tuntel bingung bagaimana membagi sebatang pohon jadi dua, ahirnya tegodek-godek memotong pohon pisang jadi dua, ada yang dapat batang bawah (bagian akar ) ada yang dapat batang atas ( bagian pucuk ). Yang memilih duluan adalah tegodek-godek  ia memilih bagian atasnya, karna beranggapan biar mudah berbuah. Setelah selesai mereka pun pulang dengan masing-masing membawa bagian tetuntel-tuntel menanam di kebunnya, sedang tegodek-godek menanam diatas pohon dengan menggantungnya tegodek-godek beranggapan tidak ada yang ganggu serta aman. Setiap hari mereka saling tanya tentang tanamannya, pada bulan pertama tegodek-godek silaturrahim menyambangi rumah tetuntel-tuntel, pisang tetuntel-tuntel makin tumbuh dan besar, sedangkan pisang tegodek-godek kering dan mati, namun ia menyembunyikannya dari tetuntel-tuntel. Kalau dia ditanya tentang pisangnya ia jawab seger dan tumbuh bahkan ia bilang sudah berbuah, jarak tiga bulan kemudian pisang tetuntel-tuntel berbuah dan pada waktunya buahnya pun matang. Dan kebetulan tegodek-godek menyambangi tetuntel-tuntel. Pas ketika itu tetuntel-tuntel mau menyambangi buah pisangnya yang sudah matang. Dan mengajak tegodek-godek, sesudah samapi kebun tetuntel-tuntel sangat riang sekali karena semau pisangnya matang semua. Tapi tetuntel-tuntel bingung bagaimana cara memetik pisangnya yang sudah matang itu, namun tegodek-godek dengan kepiwaiannya menawarkan diri untuk naik memetikkan tetuntel-tuntel, tetuntel-tuntel pun menyetujuinya segera tegodek-godek naik dan memetik pisang yang sudah matang itu, namun sayang akal nakal tegodek-godek timbul ia memetik pisang dan memakannya sendiri, tampa menghiraukan tetuntel-tuntel yang memiliki pohon pisang itu, tetuntel-tuntel minta dengan berkata “  maeh tegodek-godek teriang te sekek ”  tegdek-dodek menimpali “ adeng juluk ndek man keuan rasene”  sampai-sampai tetuntel-tuntel serak minta dijatuhkan sebiji buah pisang namun tegodek-godek tak menggubrisnya sampai habis buah pisang itu dimakan sendiri diatas pohon, tetuntel-tuntel pun kesal dan mengambil pakaian tegodek-godek lari menyembunyikannya di bawah sebilah tempurung kelapa. Tegodek-godek pun turun dan mencari tetuntel-tuntel yang membawa lari pakaiannya. Tegodek-godek mencari dimana tetuntel-tuntel sembunyi sambil memanggil “tetuntel-tuntel mbe kelambingku, teuntel-tuntel tang kelambingku ne puntik mek” namun tetuntel-tuntel tak menyahut sedikitpun, diam seribu bahasa karena kecewa sama tegodek-godek yang menghabiskan buah pisangnya, tanpa memberikan sebiji pun pada tetuntel-tuntel yang menanam dan memelihara. Seharian tegodek-godek mencari dimana tetuntel-tuntel sembunyi, sementara tetuntel-tuntel menimpali tegodek-godek dengan isarat “tuntel-tuntel” jadilah bahasa tetuntel-tuntel itu sebagai sebutan namanya tuntel, tuntel sejenis kodok namun suaranya lebih lembut dan tinggal ditempurung-tempurung kelapa atau sejeninya sampai sekarang, sementara tegodek-godek telanjang karena tak menemukan dimana pakaiannya disembunyikan sampai sekarang, sebenarnya dari kisah binatang ini memberikan pelajaran penting kepada kita, bahwa sangat penting bagi kita saling menghargai satu sama lainnya, menjaga perasaan orang lain tak boleh serakah, mengambil hak orang lain.
SEKIAN
 



D. TIMUN BONGKOK
Disebuah pelosok Desa hidulah dua saudara kandung  yang memiliki penghasilan serba cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,  ayahnya  seorang peramu kayu sedang  ibunya petani kebun timun (mentimun). Suatu hari ibunya mau kepasar  untuk berjualan dan anak-anaknaya ditugaskan untuk menjaga kebun timun tersebut. anaknya pergi kekebun  timun untuk menjaga dari pencuri maupun binatang buas maklum perkebunan didekat hutan. Dua anak ini melihat buah-buah timun tersebut ternyata  adiknya yang bungsu lapar dan pingin makan timun, kakaknya merayu dengan menenangkan adeknya bahwa timun itu tidak boleh dipetik karena akan membuat marah ibu, kakaknya berkata. Adiknya tidak tahan ia pun menangis kencang, ahirnya kakaknya mencari timun yang kira-kira tak kan laku dijual,ahirnya ia mendapatkan buah timun yang bengkok, dengan segera kakaknya memetikan adiknya dan memberikannya, setelah adiknya selesai makan mereka pun pulang sementara ibunya pulang dari pasar  dengan sedikit lelah dan penghasilan yang cukup, ibunya pun bertanya pada anak-anaknya “kalian sudah kekebun melihat timun itu? Anaknya menjawab “ sudah buk ”,  ibunya pun kekebun dan memeriksa kebun mentimun seraya menghitung buah-buahnya, ternyata ada yang kurang satu sudah dipetik, ternyata ibu dua saudara ini marah dan langsung pulang dan menanyakan pada anaknya yang paling besar tak puas atas jawaban anaknya yang paling besar ini, ibunya memeriksa satu-persatu mulut anak-anaknya, ternyata ada sebiji tulang mentimun itu terselit digigi anaknya yang paling kecil, sepontan ibu dua anak ini mencekik anak bungsunya sampai meninggal dunia, kakaknya menangis sambil mengurus mayat adiknya yang sudah tak bernyawa itu dengan membungkusnya dengan kain dan langsung membawanya ke hutan untuk mencari ayahnya yang meramu ditengah hutan, sambil benelusuri jalan yang sempit dan sepi itu kakak dua saudara ini memanggil-mangil ayahnya “ jaaook inak jaook amak adingku mate lantaran timun bongkok” ahirnya ia menemukan seorang dan bertanya “ tuak-tuak mbe kon amangku? Bapak itu menjawab “ nuuu kon pendet apii sik ngembul noo” lagi anak ini berjalan sambil membawa jasad adiknya yang dicekik ibunnya sambil memanggil ayahnya “ jaaook inak jaook amak adingku mate lantaran timun bongkok”  ayah dua anak ini mendengar suara anaknya ia pun berhenti menabas ramuannya, sambil mendengarkan suara yang makin mendekat itu “ jaaook inak jaooh amak adingku mate lantaran timun bongkok” makin mendekat “ jaaook inak jaook amak adingku mate lantaran timun bongkok” “ jaaook inak jaook amak adingku mate lantaran timun bongkok” ternyata itu suara anaknya. Ia pun menemukan ayahnya didalam hutan yang lebat dan menceritakan bahwa adiknya mati, ayahnya pun tak tahan air mata pun bercucuran membaahi pipinya melebihi dari daur keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, setelah sedikit tenang ayahnya bertanya pada anaknya apa penyebab kematian adiknya, anaknya pun menceritakan “adiknya mati karena dicekik ibu, sebab memetik mentimun dan memakannya, dan langsung mencekik anaknya sampai mati, mendengar cerita anaknya ayahnya yang tadi menangis sejadi-jadinya berubah jadi marah, ia langsung menguburkan anaknya dan segera pulang, sesampinya dirumah ia disambut oleh ibu dua anak ini, ayahnya pun tak menanyakan keadaan anak-anaknya diam saja, semalaman tak ngomong, keesokan pagi-pagi sekali ayah dua anak ini mengasah kapaknya, sang istri diam santai saja, sambil menyiapkan bekal suaminya yang akan berangkat meramo, setelah selesai mengasah, suaminya minta di dicabuti uban dikepalanya, sang istripun menurutinya setelah selesai istripun minta di cariin uban dikepalnya, suaminya menuruti, begitu siap-siap memegang kapak, suaminya membelah  kepala istrinya, istrinya menjerit kesakitan suaminya pun menimpalinya rasakan ini, ini ibu yang tak tau pengertian, telah membunuh anaknya. Setelah mati istrinya dibungkus dan di buang kesungai, setelah ibu dua anak ini  meninggal, ayahnya memanggil anaknya dan mereka pun hidup tentram dan  tanang.
Tepak sie baon batu lekek nie ndak aku
SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar