Minggu, 07 Juni 2015

KEPEMIMPINAN PROFETIK



KEPEMIMPINAN PROFETIK
(Telaah Kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz dalam Konteks Kepemimpinan Pendidikan Islam).



Syamsudin
Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
Blog: Shirotuna.blogspot.com


A.  Konteks Penelitian

Kepemimpinan dan pemimpin merupakan objek dan subjek yang banyak dipelajari, dianalisis dan direfleksikan orang sejak dahulu sampai sekarang dari belbagai sudut pandang. Meskipun sudah banyak definisi dari kepemimpinan, namun hingga saat ini tidak satupun yang memuaskan.[1] Terutama Kepemimpinan pendidikan Islam yang selama ini mendapat stigma negatif terutama pada aspek kepemimpinan lembaga pendidikannya yang terkesan “ademokratis dan diktator” seperti pendidikan di pesantren like or dislike perlu melakukan perubahan dan pembenahan terhadap organisasinya maupun terhadap manajerialnya,[2] seperti: krisis keteladanan, krisis efektifitas,[3] krisis kesadaran dan krisis lemahnya kinerja para pemimpin, belum mampu mencapai titik idealnya yakni sebagai khalīfah fi al-Ardh. Semua krisis ini disebabkan oleh tidak adanya tujuan yang menjadi orientasi kepemimpinan pendidikan Islam.[4]
Atas dasar tersebut peneliti mencoba menawarkan konsep kepemimpinan pendidikan Islam yang di gali dari literatur klasik dan modern. Salah satunya adalah kepemimpinan profetik dengan pradigma bahwa kepemimpinan profetik telah berhasil dan mampu memunculkan harapan para pengikutnya pada cita-cita dan nilai-nilai Islam yang tinggi, seperti kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.
Kunci kehebatan perkembangan peradaban Islam di masa Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz menjadi kunci public figure yang sangat berkaitan erat dengan keberhasilan umat Islam secara konsisten, dinamis dan kreatif. Kedua tokoh ini memiliki prinsip melayani, bukan dilayani, pemimpin yang pembelajar dan kemampuan memimpin tingkat tinggi.[5] Ketiga karakteristik ini berhasil mereka kristalkan, sehingga posisi mereka pun berbuah kontribusi didalam dunia Islam.
B.  Fokus dan Tujuan Penelitian
Fokus penelitian ini hanya pada aspek kepemimpinannya dan pengaruhnya di dalam dunia pendidikan Islam, maka fokus yang diangkat adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana model kepemimpinan profetik Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz?
2.    Bagaimana perbandingan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz dalm konteks Kepemimpinan Pendidikan Islam?
Adapun tujuan Penelitian ini untuk:
1.    Menganalisis dan menemukan model kepemimpinan profetik Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz,
2.    Menganalisis dan menemukan perbandingan kepemimpinan profetik Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz dalam konteks kepemimpinan pendidikan Islam.
C.  Kajian Teori
1.    Pengertian Profetik
Kata profetik berasal dari bahasa inggris prophet yang berarti Nabi, atau ramalan.[6] Kata tersebut menjadi prophetic atau profetik (kata sifat) yang berarti kenabian.[7] Dengan kata lain sifat yang ada dalam diri seorang Nabi yaitu sifat Nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, pemimpin, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan kejahilan.
Ditinjau dari segi sosiologis, kenabian berasal dari bahasa Arab nubuwwah, dari kata naba’a yang berarti kabar warta (news), berita (tidings) dan cerita (story) dan dongeng (tale) dengan beberapa kata kesamaan seperti nubuwah (prophecy, ramalan dan prophethood, kenabian).[8] Sedangkan Nabi adalah orang yang menjadi pilihan Allāh yang diberi-Nya kitab, hikmah, kemampuan berkomunikasi dan berintegrasi dengan-Nya, para malaikat-Nya serta kemampuan mengimplementasikan kitab dan hikmah itu, baik dalam diri secara pribadi maupun umat manusia dan lingkungannya.[9] Kata kenabian mengandung makna segala hal-ihwal sifat Nabi yang berhubungan dan berkaitan dengan seseorang yang telah memproleh potensi kenabian. Mereka yang dapat meneruskan perjuangan dan risalah kenabian tersebut adalah mereka yang telah mewarisi potensi kenabian.
2.    Kepemimpinan Profetik
Dalam memperkuat  tema dan rumusan masalah yang diangkat maka tidak kurang dari 17 belas teori dari para tokoh ahli yang mengungkapkan tentang kepemimpinan  pendidikan Islam dan kepemimpinan profetik (Nabi dan Rasul). Diantanya  menurut Ahyar Zain;
Kepemimpinan Profetik adalah suatu ilmu dan seni karismatik dalam proses interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin dalam sebuah kelompok atau organisasi yang mana pemimpin mampu menjadi panutan, menginspirasi, mengubah persepsi, struktur situasi, pemikiran dan mampu mewujudkan harapan anggotanya sebagaimana kepemimpian para Nabi dan Rasul (Prophetic).[10]
Sedangkan menurut para ahli seperti: Ibn Khaldūn, Hadari Nawawi, Vithzal Rivai, Edi Sustrisno, Baharuddin, Mujamil Qomar dapat di simpulkan sebagai berikut:
Kepemimpinan pendidikan Islam adalah suatu proses kegiatan saling mempengaruhi, memberi arahan, membimbing, menuntun, mengayomi, menciptkan kepercayaan yang terarah untuk mencapai tujuan oprasional baik yang bersifat Duniawi maupun Ukhrawi sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.
3.    Model Kepemimpinan Pendidikan Islam yang Profetik
Dalam hal ini, Peneliti mengambil teori yang dikemukakan oleh Mex Weber 1947 yang diikuti oleh House 1977, Congger & Kanungu 1987, Kets de vries 1988, Meindl 1990, Shamir & Athur 1993, dan J Maxwell 1999, dimana Mex Weber menjelaskan bahwa model kepemimpinan Pendidikan Islam di bagi menjadi 3 yaitu:
a.    Otoritas Karismatik, yaitu kepemimpinan yang berdasarkan pengaruh, kesetiaan pada hal-hal yang suci, sifat-sifat individu yang patut dicontoh seperti sifat jujur, amanah, cerdas, adil, tanggung jawab  dst;
b.    Otoritas Tradisional, yaitu kepemimpinan yang bersifat turun temurun seperti kepercayaan yang telah mapan yang mendapat legitimasi wewenang terhadap kesucian tradisi dibawah otoritas tradisional.
c.    Otoritas Legal Rasional, yaitu kepemimpinan yang berdasarkan pada jabatan serta kemampuannya, latar belakang pemimpin dan kepercayaan pola-pola normatif.[11]
Teori ini menjadi pisau analisis peneliti dalam menganalisis kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz disamping teori-teori kepemimpinan lainnya.
D.  Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif developmental dengan jenis penelitian library research, sumber data yang dipakai terdiri dari sumber primer seperti al-Qur’an, Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, dan kitab-kitab mengenai Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Data sekunder terdiri dari buku terjemahan, dan data umum yang berupa buku hasil penelitian yang relevan dengan kepemimpinan dan sejarah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap (1) teknik literer heuristic dan (2) teknik dokumentasi historiografi, teknik analisis data menggunakan content analysis unityzing, kategorisasi dan penapsiran.
E.  Paparan Data Objek Penelitian
1.      Umar bin Khattab (13-23 H/634-664 M)
Umar bin Khattab lahir pada tahun ketiga belas setelah peristiwa tahun Gajah yang bertepatan dengan 574 M, dua belas tahun lebih muda dari Rasulullāh SAW.[12] Umar bin Khattab bernama Ibnu Nufail, Amirul Mu’minin, Abu Hafsh, al-Quraisy al- Adawi al-Faruq.[13]
Umar bin Khattab memiliki kulit putih kemerah-merahan, wajahnya tampan, tangan dan kakinya berotot, tubuh tinggi, kuat dan tidak lemah.[14] Beliau adalah anak dari al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qorth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr al-Adawi al-Qurasy. Ibunya Hantamah binti Hasyim bin al-Mugiroh bin Abdullah bin Umar bin Makhzum ibn Yakzhah ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib.[15] Nasab ibunya bertemu dengan nasab ayahnya pada Ka’ab bin Lu’ay yang merupakan kakek kedelapan dari jalur ayah dan kakek ketujuh dari jalur ibu. Beliau berasal dari suku Ady yaitu suku yang terpandang dikalangan orang-orang Quraisy sebelum masuk Islam.
2.      Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-720 M)
Umar bin Abdul Aziz seorang putra Syria, nama lengkapnya adalah Abu Hafash Umar bin Abdil Aziz bin Marwan bin Al-Hakam Ibnul ’Ash bin Umaiyyah bin Abdi Syams bin Abi Manaf bin Qusay bin Kilab.[16]  Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 61 H, di tahun wafatnya Ibunda Maimunah Istri Nabi Muhammad SAW.[17] Ibunya adalah Laila Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab (yang dikenal dengan julukan Abu Hafsh). Ayahnya Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, pernah menjadi gubenur di Mesir selama beberapa tahun dan termasuk gubenur terbaik Bani Umayyah yang menjabat sebagai gubenur Mesir lebih dari dua puluh tahun.[18]
Ketika Umar bin Abdul Aziz masih kecil, beliau sering berkunjung kerumah pamanya, Abdullah bin Umar bin Khattab, setiap pulang beliau sering berkata pada ibunya bahwa beliau ingin seperti kakeknya, kemudian ibunya menerangkan kelak beliau akan seperti kakeknya Umar bin Khattab seorang ulama yang wara’.[19]
F.   Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: 1) model kepemimpinan Umar bin Khattab adalah otoritas karismatik dan legal rasional dan demokratis. Prinsip kepemimpinannya meliputi prinsip Syura’, al-‘Adl dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Selanjutnya sifat-sifat kepemimpinannya tegas, adil, jujur, amanah, bijaksana, zuhud, wara’abqari dan merakyat.
Sedangkan Umar bin Abdul Aziz memiliki model kepemimpinan otoritas karismatik, otoritas tradisional dan otoritas legal rasional. Melandaskan kepemimpinannya pada prinsip Syura’, al-‘Adl dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagaimana Rasulullāh  SAW. Selanjutnya sifat-sifat kepemimpinannya, amanah, lemah lembut, wara’, tanggung jawab dan merakyat, sehingga beliau disamkan dengan Umar bin Khattab dan di beri gelar Khulafā’ al-Rosyidīn yang kelima.
Perbandingan kepemimpinan profetik Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz menghasilkan persamaan dan perbedaan diantaranya sebagai berikut:
Persamaannya adalah pada proses pengangkatannya sebagai khalīfah yang sama-sama di angkat dengan demokratis. Sama-sama menerapkan sistem Syura’ al-‘Adl dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, sifat kepemimpinan yang hampir sama serta dua tokoh ini memiliki satu garis keturunan.
Perbedaannya, Umar bin Khattab merupakan peletak pertama sistem kepemimpinan dalam Islam, sedangkan Umar bin Abdul Aziz merupakan penerus dan pembaharu sistem pemerintahan Dinasti Umayyah yang semuala menerapkan sistem monarki (kerajaan) menjadi sistem yang pernah diterapkan Rasulullāh dan Khulafā’ al-Rosyidīn. Pengaruh Sifat kepemimpinan pendidikan Islam, tempat dan zaman kepemimpinannya.
Dari hasil penelitian ini ditemukan sebuah konsep baru tentang model kepemimpinan yani model kepemimpinan profetik pada tokoh pemimpin Islam bahwasanaya, kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz merupakan kepemimpinan profetik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini;
Tabel 1. 1
Perbandingan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.
Perbandinagan
Umar bin Khattab
Umar bin Abdul Aziz
Peroses pengangkatan jadi khalīfah
Ditunjuk oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dengan terlebih dahulu bermusyawarah dengan para shahabat
Diangkat oleh Sulaiman bin Abdul Malik dengan terlebih dahulu musyawarah dengan Raja’ bin Haiwah
Model kepemimpinan
Karismatik, legal rasional
Karismatik, legal tradisional dan otoritas legal rasional
Prinsip kepemimpinan
Musyawarah (Syura’), keadilan dan amar ma’ruf nahi munkar
Musyawarah (Syura’), keadilan dan amar ma’ruf nahi munkar
Sifat kepemimpian
Berani, Tegas, Adil, jujur, sederhana, wara’, merakyat
Adil, jujur, sederhana, wara’, zuhud dan merakyat
Kepemimpinan pendidikan
Menggagas, Memperluas dan mengembangkan pendidikan yang pernah dirintis Rasulullah SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq, dengan mendirikan kuttab, madrasah, dan masjid-masjid sebagai pusat pendidikan. Atas usulannya al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis.
Meneruskan dan membangun madrasah-madrasah, memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada para ulama untuk mengajar di masjid-masjid. Atas perintah dan kecintaannya pada ilmu lahirlah ide untuk mengumpulkan hadits, sehingga berbuah hasil dengan di himpunya pertama kali hadits-hadits Nabi.
Zaman kepemimpinan
Generasi awal Khulafā’ al Rosyidīn
Generasi tabi’in dan Dinasti Umayyah
Masa menajabat menjadi khalīfah
10 tahun 6 bulan dari 13-23 H/634-644 M
2 tahun 6 bulan dari 99-102 H/717-720 M.



[1]Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan, Edisi 4, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm. 308.
[2]Baharuddin dan Umiarso, Kepemimpinan Pendidikan Islam; Antara Teori dan Praktik ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 15.
[3]Thariq Muhammad as-Suwaidan & Faishal Umar Basyarahil, Melahirkan Pemimpin Masa Depan, terj. M. Habiburrahman, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hlm. 14.

[4]Achyar Zein, Prophetic Leadership, Kepemimpinan Para Nabi, (Bandung: Madani Perima, 2008), hlm. vii.
[5]Lisna Nuraeni “Makalah Dauroh Marhalah Kammi Daerah”, http://makalah-dauroh-marhalah-ii-kammi-daerah.html.lisnanuraeni.blogspot.com/2013/10, diakses tanggal 23 Februari 2015.
[6]S. Wojowasito & Tito Wasito, Kamus Lengkap; Inggris-Indonesia, Indonesia; Inggris, (Bandung: Hasta, 1982), hlm. 161.
[7]Pius A Partanto & M. Dahlan, Kamus Ilmiyah Populer, hlm. 627.
[8]M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Pramadina, 1997), hlm. 302.
[9]Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, Psikologi Kenabian; Prophetic Psychology Menghidupkan Potensi dan Keperibadian Kenabian dalam Diri, (Yogyakarta: Beranda Publishing, 2007), hlm. 44.
[10]Achyar Zein, Prophetic Leadership, Kepemimpinan Para Nabi, (Bandung: Madani Perima, 2008), hlm. vii.
[11]Nugroho Notosusasnto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengantar), (Jakarta: Inti Idayu Press, 1984), hlm. 150.
[12]Ali Muhammad Ash Shallabi, Fashlul Khottob fi Sirotul ibn Khattob Amirul Mu’minin Umar bin Khattab RA Syakhshiyatuhu Wa ‘Ashruhu, (Al-Qohiroh: Maktabah Ash-Shahabah, 1423), hlm. 15.
[13]Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Usman Adz-Dzahabi, Nuzhatul Fudhala’ Tahdzib Siyar a’lam an-Nubala, tej. Munir Abidin, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 40.
[14]Ali Muhammad Ash Shallabi, Syakhsiyatu Umar wa Aruhu, terj. Khairul Amru Harahap, (Jakarta: al-Kautsar, 2008). hlm. 15.
[15]Ibnu Jauzi, Manaqib Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, (Beirut: Dar Al Kitab Al-Ilmiyah, 1047), hlm. 13.
[16]Jamaludddin Abu al Farah Abdurrahman ibn al Jauzi, Sirah wa Manaqib Umar, hlm. 9.
[17]Ali Muhammad Ash Shallabi, Khalîfah Ar-Rasidu Wal Muslihu Al Kabir, hlm. 15.
[18]Ali Muhammad Ash Shallabi, Khalîfah Ar-Rasidu Wal Muslihu Al Kabir, hlm. 12.
[19]Hepi Andi Bastoni, Sejarah Para Khalîfah, hlm. 56.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar