Minggu, 14 Juni 2015

KERAJAAN-KERAJAAN KECIL DI TIMUR BAGDAD



A.  Abbasyiah
1.        Sebab-sebab Munculnya Dinasti-dinasti Kecil Pada Masa Bani Abbasyiah
Berdirinya dinasti-dinasti kecil pada masa Bani Abbasyiah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
a.         Kelemahan khalifah-khalifah yang memerintah akhir pemerintahan
Kelemahan khalifah ini menjadi factor utama, baik lemah dalam bidang politik pemerintahan maupun lemah dalam kewibawaanya, lebih-lebih terdapat khalifah yang suka bersenang-senang dan suka menghambur-hamburkan uang rakyat, sehingga roda perekonomian terganggu dan rakyat semakin miskin.
Daerah kekuasaan yang sangat luas membuat khalifah sangat sulit memonitoring daerah-daerah yang jauh dari pemerintah pusat. Bahkan dalam kenyataannya, banyak terdapat daerah yang tidak dikuasai khalifah. Secara riil, daerah tersebut di bawah kekuasaan para gubernur propinsi yang bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai dengan membayar upeti [1].
b.        Meningkatnya faham fanatisme
Dinasti-dinasti yang ada pada saat itu sedikitnya di kuasai oleh 4 bangsa, yaitu bangsa Persia, Turki, Kurdi dan Arab, serta menganut berbagi faham keagamaan, diantaranya sunni dan syiah.
Tampak sangat jelas bahwa perbedaan bangsa, faham serta fikiran mereka menimbulkan suatu reformasi pemerintahan yang berujung pada pembentukan dinasti baru yang sesuai dengan background keagamaan mereka serta bangsa mereka.
c.         Keinginan untuk mendirikan kerajaan yang belum tersampai di masa lalu
Berdirinya Bani Abbasyiah merupakan manifestasi dari persatuan berbagai golongan yang menentang Bani Umayyah. Diantara golongan tersebut ada yang tidak puas terhadap kebijakan Bani Abbasyiah, sehingga mereka termarjinalkan dan mengasingkan diri untuk menyusun suatu kekuatan dalam upaya membentuk suatu kerajaan yang independen. Salah satu contohnya adalah dinasti Idrisiah (syi’ah). Mereka berpendapat, sejak Rosulullah wafat yang berhak menggantikan beliau adalah Ali bin Abi Thalib bukan yang lain, akan tetapi yang mnggntikanya adalah Abu Bakar. Pada masa selanjutnya, pengikut Ali berusaha agar jabatan khalifah dipegang oleh orang syiah, tetapi tidak berhasil sampai Bani Umayyah berkuasa[2].
B.  Dinasti-dinasti Di Timur Baghdad
1.      Dinasti  Thahiriyah (205 H-259 H / 820 M-872 M
a.      Sejarah Pembentukan
Kerajaan ini didirikan oleh  Thahir bin al-Husayn (205 H/821 M)[3], seorang keturunan Persia yang kemudian diangkat menjadi jendral perang pada masa pemerintahan khalifah al-Ma’mun. Beliau berhasil memimpin balatentara untuk melawan Al-Amin secara gemilang, sehingga atas kemenangan dan kemahirannya dalam berperang al-Ma’mun memberi gelar Zu al-Yaminain dan  diangkat menjadi gubernur khurasan serta diberi wewenang untuk menentukan sendiri siapa penerus setelahnya.
Thohir bin al-Husyain memerintah pada tahun 205 H – 207 H, beliau meninggal karena sakit demam, menurut versi lain menyatakan bahwa ia keracunan. Sebagai penggantinya al-Ma’mun mengangkat putranya Talhah yang memerintah hingga tahun 213 H.  kekuasaan berikutnya di pegang Abdullah bin Thohir,usaha yang dilakukan adalah meningkatkan kerjasama dengan pemerintahan pusat dalam bidang keamanan, perekonomian serta ilmu pengetahuan dan akhlak.
 Penguasa terakhir dari dinasti Thohiriyah adalah Muhammad bin Thohir, seoarang raja yang lemah dan suka bersenang-senang. Ia tidak bisa mengendalikan pemerintahan sebagaimana pendahulunya, bersamaan dengan itu muncullah kekuatan baru dari keluarga saffar di sijistan (Persia) yakni ya’kub bin lais as-saffar. Muhammad bin Thohir tidak mampu membendung kekuatan as-saffar sehingga pada tahun 259 H dinasti Thohiriyah berhasil dikuasai secara penuh oleh Ya’kub, sehingga terbentuklah dinasti saffariyah.
b.      Kemajuan dan kehancuran dinasti Thahiriyah
Dinasti Thahiriyah mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Abd Allah ibn Thahir, saudara Thalhah. Ia memiliki pengaruh dan kekuasaan yang besar di mata masyarakat dan pemerintah Bagdad. Oleh karena itu, ia terus menjalin komunikasi dan kerjasama dengan Bagdad sebagai bagian dari bentuk pengakuannya terhadap peran dan keberadaan khalifah Abbasiyah. Perjanjian dengan pemerintah Bagdad yang pernah dirintis ayahnya, Thahir ibn Husein, terus ditingkatkan. Peningkatan keamanaan di wilayah perbatasan terus dilakukan guna menghalau pemberontak dan kaum perusuh yang mengacaukan pemerintahan Abbasiyah. Setelah itu, ia berusaha melakukan perbaikan ekonomi dan keamanan. Selain itu, ia juga memberikan ruang yang cukup luas bagi upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan perbaikan moral atau akhlak di lingkungan masyarakatnya di wilayah Timur Bagdad.[4]
Dalam perjalanan selanjutnya, dinasti ini justeru tidak mengalami perkembangan ketika pemerintahan dipegang oleh Ahmad ibn Thahir (248-259 H), saudara kandung Abd Allah ibn Thahir, bahkan mengalami masa kemerosotan. Faktornya antara lain, adalah pemerintahan ini dianggap sudah tidak loyal terhadap pemerintah Bagdad, karenanya Bagdad memanfaatkan kelemahan ini sebagai alasan untuk menggusur dinasti Thahiriyah dan jabatan strategis diserahkan kepada pemerintah baru, yaitu dinasti Saffariyah. Muhammad ibn Thahir II memiliki kemampuan yang rendah dibandingkan pendahulu-pendahulunya, pada tahun 259H/873 M dia menyerahkan Nisyapur kepada Ya’qub ibn Layts. Pada tahun 271H/885 M dia ditunjuk kembali menjadi gubernur, namun tidak pernah menjalankan jabatan itu dengan baik, dan dia meninggal pada awal abad kesepuluh.[5]
 Faktor lain penyebab kemuduran dan kehancuran dinasti Thahiriyah adalah pola dan gaya hidup berlebihan yang dilakukan para penguasa dinasti ini. Gaya hidup seperti itu menimbulkan dampak pada tidak terurusnya pemerintahan dan kurangnya perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Selain itu, persoalan keamanan dan keberlangsungan pemerintahan juga tidak terpikirkan secara serius, sehingga keadaan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok lain yang memang sejak lama mengincar posisi strategis di pemerintahan lokal, seperti kelompok Saffariyah. Kelompok baru ini mendapat kepercayaan dari pemerintah Bagdad untuk menumpas sisa-sisa tentara dinasti Thahiriyah yang berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Bagdad dan melakukan makar. Dengan demikian, berakhirlah masa jabatan dinasti Thahiriyah yang pernah menjadi kaki tangan penguasa Abbasiyah di wilayah Timur kota Bagdad.[6]
2.      Dinasti Saffariyah (254 H-289 H / 867 M-903 M)
a.         Sejarah Pembentukan
Dinasti Saffariyah, yang bermula di Sijistan dan berkuasa di Persia, didirikan oleh Yakub bin al Laits al shaffar. Al saffar[7]. Seorang pengrajin tembaga dan perampok. Perilakunya yang sopan dan efesien sebagai seorang kepala gerombolan perampok telah menarik perhatian gubernur Sijistan, yang kelak memeberinya kepercayaan menjadi pemimpin tentara pada zaman Salih bin Nasr. Al Saffar akhirnya menggantikan gubernur  dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan hampir ke seluruh Persia dan kawasan pinggiran India, bahkan berhasil menumpaskan dinasti Thohiriyah. Namun pemerintah pusat tidak mengakui kedudukannya, sehingga Ya’kub mengancam kekuasaan Baghdad yang berada di bawah pimpinan Khalifah al-Mu’tamid, akan tetapi gagal di dair al-aqul dan meninggal di jundai shabur. Pengganti Ya’kub adalah saudaranya, Amr yang memerintah di Sistan hingga tahun 558 H.

b.        Kemajuan dan Kemunduran dinasti Saffariyah
Perkembangan Dinasti Shaffariyah mengalami perkembangan pada masa pemerintahan Amr ibn Lays, ia berhasil melebarkan wilayah kekuasaannya sampai ke Afganistan Timur.[8]
Dalam masa pemerintahannya,terdapat perkembangan yang menarik, terutama perkembangan civil society berkaitan dengan keadilan. Dinasti Saffariyah meletakkan dasar-dasar keadilan dan kesamaan hak di antara orang-orang miskin di Sijistan. Karena itu, faktor inilah yang kemungkinan menjadi salah satu sebab lamanya dinasti ini berkuasa di Sijistan, karena ia begitu peduli dengan keadaan masyarakat yang menjadi pendukung pemerintahan, terutama komunitas masyarakat miskin. Seorang amir abad kesepuluh, Khalaf ibn Ahmad, menjadi termasyhur sebagai pelindung ilmu pengetahuan.[9]
Pada tahun 393 H/1003 M Mahmud dari Ghazna menguasai provinsi itu dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya, namun Shaffariyah terus bertahan, dan pada pertempuran Ghaznawiyah-Seljuq pada tahun-tahun pertengahan abad kesebelas memperkuat posisinya, mula-mula berkuasa sebagai bawahan Seljuq, kemudian sebagai bawahan ghuriyyah. Bahkan setelah invasi Mongol dan Timur, kejadian-kejadian yang begitu kalut dan menyedihkan bagi sebagian besar dunia Islam Timur, Dinasti Shaffariyah berhasil bertahan sampai akhir abad kelima belas.[10]   
3.      Dinasti Samaniyah (261 H-389 H / 874 M-999 M)
a.      Sejarah Pembentukan
Dinasti Samaniyah adalah dinasti persi yang didasarkan pada keterunan Samankhudat (pemimpin daerah saman disekitar Balkh, utara Afganistan)[11]. Pendiri dinasti  ini adalah Nashr bin Ahmad pada tahun 261 H, beliau menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Gubernur Transoxania dan diangkat menjadi pemimpin yang berkuasa penuh atas Transoxania oleh Khalifah al-Mu’tamid.
Pada tahun yang sama Nasr melantik saudaranya Isma’il menjadi wakilnya di Bukhoro. Isma’il telah berjaya menghadapi tantangan dari kaum khawarizm pimpinan Husain bin Tahir al-Ta’I dan kaum Saffariyah pimpinan Ya’kub. Hal tersebut membuat kedudukan dinasti Samaniyah menjadi semakin solid, lebih-lebih isma’il  berkonsolidasi dengan Rafi’ seorang Gubernur Khurasan. Akibat hubungan baik diantara keduanya tersebut hampir mengancam kedudukan Nasr, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung maksimal.
Nasr meninggal pada tahun 279 H dan diganti oleh Ismail. Isma’il mampu melebarkan sayap kekuasaanya sampai ke Qorluq, dengan dikuasainya Qorluq maka aktifitas perdagangan di Asia Tengah dikuasai Samaniyah.  Pada tahun 287 H isma’il mendapat sanjungan dari khalifah Abbasyiah karena berjaya menewaskan Amru bin Laith (safawi), maka beliau diangkat menjadi Gubernur Khurasan menggantikan Keluarga Thohiriyah dan Saffariyah. Beberapa waktu kemudian Dinasti Samaniyah memperoleh masa keemasan dengan dikuasainya  kawasan-kawasan penting khuwarizm, Sistan , Afganistan serta sebagian India.
Berbagi perlawanan bermunculan terhadap Samaniyah, khususnya dari keluarga Buwaih, golongan Qarakhaniyah dan Ghoznawiyah, sehingga pada tahun 395 H amir Isma’il al-Muntasir mati terbunuh dan dinasti Samaniyah jatuh ke tangan Qarakhaniyah (wilayah Transoxania) dan Ghoznawiyah (wilayah Khurasan).
b.      Kemajuan dinasti Samaniyah
Pada masa Dinasti Samaniyah muncul Firdausi dengan karyanya hahnamah, yang menguraikan nasionalisme Parsi. Pada masa ini pula, ilmuanwan muslim, al-razi mempersembahkan karya utamanya dalam dunia kedokteran, berjudul al-Mansyur. Pada periode Nuh II diadakan  pengembangan ilmu pengetahuan, sehingga Ibn Sina muda tinggal di Bukhara dan memperoleh akses buku yang sangat banyak. Darisinilah ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat, terutama bidang sastra persi.[12]
c.       Kehancuran dan kemunduran dinasti Samaniyah
Sepeninggal Ismai’l, Khalifah al-Muktafi mengangkat Abu Nashr ibn Ismail, anak dari Ismail. Tidak lama memerintah lalu ia terbunuh, dan digantikan oleh putranya Nashr II, yang baru berusia delapan tahun. Para tokoh samani merasa khawatir, sementara waktu itu masih ada paman bapaknya, yaitu Ishaq ibn Ahmad, penguasa Samarkand yang memihak kepada penduduk Transoxania. Lalu tokoh samani menyampaikan permohonan kepada khalifah al-Muktadir, agar didatangkan pemerintahan dari khurasan, tetapi khalifah bersikeras menolaknya.
Hal tersebut diatas menjadikan mulainya muncul bibit-bibit perpecahan ditubuh Samaniyah, ini memicu pemberontakan para pemimpin dan panglima militer, bahkan para tokoh militer ada yang bekerja sama dengan pihak musuh. Inilah salah satu penyebab keruntuha dinasti Samaniyah. [13]
4.      Dinasti Ghaznawi (977-11186 M)
a.     

 
Sejarah Pembentukan
Dinasti Ghaznawiyah (977-11186 M) merupakan kerajaan berkebangsaan Turki yang menguasai wilayah Afghanistan dan Punjab di India. Dinasti ini merupakan dinasti pertama yang dipimpin oleh budak, Ghaznawiyah juga terkenal sebagai benteng terkuat Sunni.[14] Ghaznawiyah memprakarsai sebuah rezim yang di dalamnya prajurit budak mendominasi Negara; para penguasanya sendiri berasal dari kalangan budak.[15]
Setelah pemerintahan al-Mu’tashim (833-842 M), kerajaan Abbasiyah mulai melemah. Wilayah-wilayah yang jauh dari pemerintahan pusat mulai memisahkan diri. Dengan begitu terbentuklah beberapa kerajaan kecil di timur dan di barat Baghdad.
Di timur, ada 3 (tiga)  kerajaan yang didirikan oleh orang-orang keturunan Persi bermadzhab Syi’ah. Kerajaan itu adalah Tahiriyah, Saffariyah dan Samaniyah. Kerajaan-kerajaan ini memerintah silih berganti di beberapa kawasan bagian tengah Asia di sekitar sungai Oxus.
Pada masa pemerintahan Sultan Mansur dari dinasti Samaniyah, telah muncul pemberontakan di wilayah Khurasan. Sultan Mansur mengirimkan salah seorang jenderalnya (yang juga bekas hamba ayahandanya) berkebangsaan Turki bernama Alptigin untuk membendung pemberontakan tersebut. Karena jasanya menumpas pemberontakan itu, Alptigin dilantik menjadi Gubernur Khurasan. Akan tetapi tidak berapa lama terjadi perselisihan antara Sultan Mansur dengan Alptigin, yang akhirnya Alptigin dipecat.
Alptigin kemudian memberontak dan mengikrarkan seluruh wilayah Khurasan bebas dari kekuasaan kerajaan Samaniyah. Pada tahun 926 M, beliau menyerang kota Ghaznah (Ghazni) di kawasan pegunungan Afghanistan dan menjadikannya pusat kerajaannya yang baru. Kerajaan ini dikenal sebagai dinasti Ghaznawiyah.
Setelah Alptigin meninggal dan digantikan menantunya, Sabuktigin, pada tahun 977 M. Sabuktigin memperluas kekuasaan kerajaan Ghaznawi ke timur dan ke barat. Sabuktigin menyerang kawasan-kawasan kerajaan Samaniyah yang lain dan sekitar tahun 986 M mulai mengarahkan perhatian ke arah India.
Tindakan pertamanya adalah menyerang kerajaan Shahiya, sebuah kerajaan Hindu berpusat di Waihand. Sabuktigin dapat mengalahkan raja Shahiya yang bernama Jaipal. Setelah itu Sabuktigin juga menguasai wilayah Lamghan. Tindakan Sabuktigin ini telah menuimbulkan kemarahan Jaipal.[16]
Sabuktigin merupakan pemerintah Islam yang pertama mencoba masuk ke India melalui arah barat laut. Walau demikian, keberhasilan yang dicapai tidaklah seberapa. Sabuktigin hanya berhasil mengauasai Peshawar dan mengalahkan Jaipal. Namun begitu, Sabuktigin telah membuka jalan bagi penaklukan Hindustan oleh penakluk-penakluk yang lain.

b.       Kemajuan
Sabuktigin meninggal pada tahun 997, dan terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya, Mahmud dan adiknya, Ismail. Mahmud berhasil berkuasa dan menawan adiknya. Dua tahun pemerintahannya ditumpukan pada pengukuhan kekuasaannya di Ghaznah. Mahmud menyerang Bukhara karena keengganan kerajaan Samaniyah mengakui kedudukannya sebagai Gubernur Khurasan. Mahmud berhasil mengalahkan tentara Samaniyah dan menguasai seluruh Khurasan. Keberhasilannya menguasai Khurasan ini telah menyebabkan Khalifah Abbasiyah di Baghdad terpaksa mengakuinya sebagai pemerintah yang sah berkuasa di Khurasan dan kawasan di timurnya. Mahmud juga telah dianugerahi gelar Sultan.[17]
Di samping mengakui kekuasaan Ghaznawi di Khurasan, Khalifah al-Qadir (991-1031 M), Khalifah Abbasiyah ketika itu telah meminta Sultan Mahmud supaya tidak memperluas kekuasaannya ke sebelah barat, ke kawasan pemerintahan Bani Buwaihiyah. Akan tetapi permintaan ini tidak diperdulikan oleh Sultan Mahmud. Beliau telah mengirim tentaranya ke barat dan menguasai wilayah-wilayah di Persi hingga ke daerah Iraq.
Setelah itu, Sultan Mahmud menumpukan perhatiannya ke India. Mahmud masuk ke Sind, kemudian menyerbu ke India. Dari tahun 1000-1026 M, Sultan Mahmud melakukan tidak kurang dari 16 kali serangan dan penyerbuan atas India. Setiap serangan yang dilakukannya, Sultan Mahmud tidak pernah kalah. Oleh sebab keberhasilan-keberhasilannya ini, al-Qadir menganugerahkan gelar Yamin ad-Daulah (Tangan Kanan Negara) dan Amin al-Millah (Orang Kepercayaan Agama) kepadanya.[18] Beliau berhasil menduduki kawasan Punjab, dan pusat kotanya, Lahore. Disana beliau juga berhasil menancapkan pengaruh Islam. Dala sejaran Islam Sultan Mahmud adalah orang pertama yang menerima gelar al-ghazi (prajurit garis depan). Gelar ini dianugerahkan padanya karena keistimewaannya dalam melawan orang kafir.[19]
Wilayah kekuasaan Ghaznawiyah pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud merupakan wilayah terluas. Antara tahun 1001 M hingga 1024 M, Sultan Mahmud melakukan perluasan wilayah dengan menaklukkan Lahore, Multan, dan sebagian daerah Sind; setelah itu, ia pun menaklukkan Gujarat (1025 M), Khawarizmi, Georgia, dan Rayy (1026 M). akhirnya kekuasaan kerajaan Ghaznawi meliputi India Utara, Irak, Persia, Khurasan, Turkistan, sebagai Transoxiana, Sijistan, tepi sungai Gangga, dan Punjab (sekarang Pakistan).[20]
Walaupun Sultan Mahmud seorang penakluk yang terkemuka, beliau masih meminati seni dan mencintai golongan terpelajar. Beliau sering mengadakan perbincangan-perbincangan tentang agama dan duduk menikmati nyanyian dan syair. Beliau juga mendirikan sekolah, masjid, perpustakaan dan sebuah universitas di Ghaznah. Sultan Mahmud memberikan sejumlah uang setahun kepada para cendekiawan. Universitas yang didirikannya dibekali dengan perpustakaan yang besar, sebuah museum dan professor-profesor yang digaji oleh kerajaan.
Di istananya silih berganti berdatangan para cendekiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu; sains, sastra, astronomi, sejarah, dan ilmu-ilmu yang lain. Diantara mereka adalah:
a.       al-Biruni (973-1048 M), ahli astronomi dan sejarah. Akbar S. Ahmed menjulukinya dengan gelar Ahli Antropologi pertama (Bapak Antropologi).[21]
b.      al-Farabi, ahli filsafat.
c.       al-Utbi, ahli sejarah.
d.      al-Baihaki, ahli cerita.
e.       Unsuri, Farruki, Asjudi dan Firdausi, pujangga-pujangga dan ahli syair yang besar, Fidausi terkenal dengan karyanya Syah Nameh (Kitab Raja-raja)[22] yang terdiri atas 60.000 bait.[23]

c.        Kemunduran dan Kehancuran
Setelah Sultan Mahmud meninggal (1030 M), dinasti Ghaznawiyah mulai lemah. Pemerintah-pemerintah setelahnya agak kurang kuat. Disamping itu perebutan kekuasaan sering terjadi di istana. Tekanan-tekanan dari luar terutama dari orang-orang Saljuk telah melemahkan kerajaan Ghaznawiyah.
Anak-anak Sultan Mahmud, Muhammad dan Mas’ud telah bermusuhan diantara satu dengan lain karena memperebutkan tahta. Perseteruan ini dimenangkan oleh Mas’ud. Sungguhpun Mas’ud seorang pemerintah yang kuat dan berminat terhadap ilmu tetapi juga dikatakan terlalu mencintai duniawi dan kehidupan mewah.
Untuk menghadang pengaruh orang-orang Saljuk, Mas’ud menyerang Tughril Beg yang telah mengikrarkan dirinya sebagai raja Khurasan. Serangan ini telah membawa kekalahan tentaranya. Mas’ud terpaksa mundur ke India. Di sini Mas’ud melantik adiknya Muhammad sebagai sultan. Muhammad yang telah dibutakan matanya oleh Mas’ud sebelum ini telah pula menyerahkan urusan Negara kepada anaknya Ahmad yang kemudian telah menjatuhkan hukuman bunuh pada saudara ayahnya. Kemudian Ahmad dikalahkan dan dibunuh pula oleh Maudad, anak Mas’ud.
Maudad naik tahta pada tahun 1040 M. beliau berusaha menjalin hubungan baik dengan pihak Saljuk. Beberapa perkawinan politik telah diadakan di antara keduanya. Walaupun demikian peperangan masih terus berlangsung anatara kedua golongan ini. Orang-orang Hindu di Punjab telah mengambil kesempatan atas kekacauan yang terjadi di dalam istana Ghaznawiyah untuk memberontak. Mereka telah menguasai Nagarcot tapi gagal menguasai Lahore. Maudad meninggal dunia pada tahun 1049 M dan meninggalkan negaranya dalam keadaan yang kacau balau.[24]
Runtuhnya kerajaan Ghaznawiyah sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa sebab yaitu tidak ditopangnya kekuasaan Ghaznawiyah dengan angkatan bersenjata yang kuat, serta adanya perebutan kekuasaan diantara para pewaris pemerintahan sehingga wilayah kekuasaanya di bagian timur berangsur-angsur memisahkan diri dari ibukotanya di dataran tinggi, dan muncullah sejumlah dinasti independen di India. Di bagian utara dan barat dinasti Khan dari Turkistan dan dinasti Saljuk dari Persia. Di bagian tengah, dinasti Ghuriyah yang tangguh dari Afghanistan.[25]
Kehancuran kerajaan Ghaznawi terjadi pada tahun 1150 M. satu angkatan perang orang-orang Ghur yang dipimpin oleh Alaudin Husain telah menyerang Ghaznah karena membalas dendam terhadap Sultan Bahram yang telah membunuh dua orang kakaknya, Qutbuddin dan Saifuddin. Ghaznah dihancurleburkan oleh Aludin. Semua bangunan yang indah-indah yang telah didirikan sejak masa Sultan Mahmud dibakar oleh tentara Alaudin. Tidak sebuah pun bangunan sekolah, perpustakaan, universitas, istana dan masjid yang indah itu selamat, makam raja-raja Ghaznawi juga dibongkar dan tulang-tulangnya dilemparkan pada anjing.[26]
Apa yang tinggal untuk mengenang wujud sebuah kerajaan yang agung di pegunungan Afghanistan itu hanyalah dua buah menara dan makam Sultan Mahmud. Walaupun orang-orang Ghuri sangat membenci pemerintah Ghaznawiyah tetapi mereka masih menghormati Sultan Mahmud. Makam beliau tidak dirusak.
Ghaznah terbakar selama tujuh hari tujuh malam. Walaupun kemudian ada usaha yang dilakukan oleh Khusru anak Bahram untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Ghaznawi tetapi usaha ini gagal. Khusru hanya berhasil menguasai Punjab dan menjadikan Lahore sebagai ibukota pemerintahannya. Kerajaan Ghaznawiyah ini langsung lenyap ketika Muhammad Ghori menyerang Lahore pada tahun 1186 M dan menggulingkan pemerintah terakhir kerajaan Ghaznawi, Khusru Malik.[27]


1 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta; PT. Grafindo, 1998), 63
[2] Armando Nina M.Enslikopedi Islam (Jakarta; PT Ichtiar Baru Van Hove, 2005), 292
[3] Mahayudin Hj. Yahya, Sejarah…, 316,
[4]Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 173.
[5]Bosworth, hal 127.
[6] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 173-174
[7] Ibid, 317
[8]Syamsul Munir, 275.
[9]Ibid, hal 132.
[10] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm.176
[11] Ibid, 317
[12] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 179.
[13] Ibid., 183
[14] Syafiq A. Mughni, Perpecahan Kekuasaan Islam, Ensiklopedi Tematis 2, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002,), 129.
[15] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, (Cambridge: Cambridge University Press, 1988), terj. Ghufron A. Mas’adi, Sejarah Sosial Umat Islam, Bagian Kesatu & Dua, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), 215.
[16] Mahayudin Hj Yahaya, Sejarah Islam, (Selangor: Fajar Bakti Sdn, Bhd, 1995), 451.
[17] Ibid., 452.
[18] Ibid., 452.
[19] Phillip K. Hitti, History of the Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, cet. II, 2006), 589.
[20] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Islamika, cet. I, 2008), 167.
[21] Akbar S. Ahmed, Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 1992), 108.
[22] Mahayudin Hj Yahaya, Sejarah …, 452.
[23] Jaih Mubarok, Sejarah …, 167.
[24] Mahayudin Hj Yahaya, Sejarah …, 456.
[25] Istianah Abu Bakar, Sejarah Peradaban Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), 103-104.
[26] Mahayudin Hj Yahaya, Sejarah …, 456.
[27] Ibid., 456. lihat juga, C.E. Bosworth, The Islamic Dinasties, (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1980), terjem. Ilyas Hasan, Dinasti-Dinasti Islam, (Bandung: Mizan, 1993), 206-207.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar